Arkeolog Sebut Rel Trem Jadul di Proyek MRT Fase 2 Tertua di Indonesia

ADVERTISEMENT

Arkeolog Sebut Rel Trem Jadul di Proyek MRT Fase 2 Tertua di Indonesia

Anggi Muliawati - detikNews
Rabu, 16 Nov 2022 13:20 WIB
Jakarta -

Rel trem zaman dulu (jadul) ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok-Kota, di Jalan Gajah Mada, kawasan Harmoni, Jakarta. Arkeolog menyebut rel trem tersebut merupakan rel tertua di Asia.

Pantauan detikcom di lokasi, Rabu (16/11/2022), di Jalan Gajah Mada, tepatnya di depan Halte TransJakarta Harmoni, terlihat sebagian rel trem masih tertutup tanah dan bebatuan. Sejumlah petugas membersihkan rel trem itu dari tanah dan bebatuan.

Tampak baja rel trem tersebut telah berkarat. Bantalan rel trem menggunakan kayu.

Terlihat ujung-ujung bantalan kayu tersebut lapuk. Bantalan-bantalan itu tebal. Rel trem tersebut disebut yang tertua di Asia.

"Rel trem ini pertama di Asia dan tertua di Indonesia," kata anggota tim arkeologi Charunia Arni di lokasi.

Kondisi rel trem yang ditemukan di proyek MRT Fase 2A Glodok-Kota, di Jl Gajah Mada, depan Halte TransJakarta Harmoni, Rabu (16/11/2022).Kondisi rel trem yang ditemukan di proyek MRT fase 2A Glodok-Kota, di Jl Gajah Mada, depan Halte TransJakarta Harmoni, Rabu (16/11/2022). (Anggi Muliawati/detikcom)

Charunia menjelaskan pemerintah Hindia Belanda ingin membangun transportasi massal untuk mengangkut hasil pertanian lebih banyak. Kemudian, muncul ide untuk membuat trem.

"Politik tanam paksa, pemerintah Belanda dituntut mengadakan transportasi massal yang bisa membawa kopi-teh dalam jumlah banyak," kata Charunia.

Menurutnya, pada 1860-an, wacana membangun trem kuda muncul dan kemudian dieksekusi. Menurut Charunia, trem jadi dan beroperasi pada 1869.

"Kemudian muncul pemikiran, untuk mulai membangun penggunaan rel trem di Batavia. Idenya muncul tahun 1860," katanya.

"1866 izin pembangunan rel trem keluar, tiga tahun kemudian, 1869, rel trem mulai beroperasi di Batavia, jalur pertama dari Gerbang Pasar Ikan ke Harmoni," ucapnya.

Charunia pun menjelaskan soal struktur dari rel tersebut. Disebut, terdapat bantalan rel yang terbuat dari kayu dan baja.

"Satu struktural trem itu terdiri atas 16 bantalan, yang bisa terdiri dari bantalan baja bantalan kayu atau kombinasi keduanya. Biasanya, kalau kombinasi keduanya, bantalan kayunya ada di bagian ujung di dekat pelat sambungan. Terus yang kita lihat sekarang adalah seluruhnya bantalannya menggunakan kayu. Kalau yang menggunakan baja ada di Mangga Besar," kata Charunia.

Charunia mengatakan antar-batang rel trem tidak disambung dengan las. Namun rel trem itu disambung dengan pelat baja.

Kondisi rel trem yang ditemukan di proyek MRT Fase 2A Glodok-Kota, di Jl Gajah Mada, depan Halte TransJakarta Harmoni, Rabu (16/11/2022).Kondisi rel trem yang ditemukan di proyek MRT fase 2A Glodok-Kota, di Jl Gajah Mada, depan Halte TransJakarta Harmoni, Rabu (16/11/2022). (Anggi Muliawati/detikcom)

"Batang rel trem yang kita lihat sekarang itu antara satu batang rel dengan batang lain tidak disambung dengan las, tapi dengan pelat baja, menggunakan baut dan mur," ujarnya.

Charunia mengatakan rencananya rel trem tersebut akan direlokasi dan dilestarikan. Hal itu agar kondisi rel trem tidak terganggu proyek pembangunan MRT.

"Kalau misalkan ditaruh di sini saja nanti kena pembangunan konstruksi MRT. Jadi, setelah ini, diekspos, kemudian didokumentasi, didata, dan sebagainya, sesuai dengan kaidah ilmu arkeologi. Ini kemudian akan dilepas satu per satu komponennya, kemudian diangkat dan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara," katanya.

"Berhubung ini asetnya PPD, jadi dia akan disimpan di pool PPD di daerah Jelambar," sambungnya.

Relokasi rel trem jadul. Simak di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT