Nelayan Pangandaran, Nasibmu Kini
Jumat, 21 Jul 2006 16:15 WIB
Jakarta - Para nelayan Pangandaran hanya bisa gigit jari menghadapi musim ikan tahun ini. Banyak di antara mereka tak lagi memiliki perahu akibat tsunami."Kami juga masih takut melaut," kata Kino, salah seorang nelayan yang ditemui detikcom di Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, Jumat (21/7/2006).Tsunami memang telah meninggalkan 1001 macam persoalan bagi nelayan di Pangandaran. Kehidupan nelayan yang miskin, kini semakin bertambah berat. Perahu satu-satunya alat menggantungkan nafkah, banyak yang tak berbentuk lagi.Tidak hanya perahu. Warung, restoran, serta hotel dan vila tempat mereka menjajakan hasil tangkapan pun kini sudah tiada. Padahal, lewat tempat-tempat itu mereka bisa memperoleh tambahan untuk sekadar menyambung hidup sehari-hari.Demikian pula dengan empat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pusat kegiatan perekonomian nelayan ini ikut porak-poranda. Roda perekonomian mereka sungguh berjalan terseok-seok. "Kalau pun kami melaut, hasilnya mau dijual ke mana," ungkap Kino sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Padahal tanpa semua itu, kehidupan Kino dan kawan-kawan, sudah sulit. Kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, sudah membuat leher mereka tercekik. Di beberapa daerah, sejumlah nelayan malah tidak bisa melaut karena tak mampu membeli BBM.Namun Kino merasa masih beruntung dibandingkan kawan-kawannya yang lain. Kapalnya yang dinamakan 'Bintang Timur' tidak mengalami kerusakan sedikit pun. Kok bisa?"Waktu ada tsunami, saya sedang melaut di lepas pantai. Ketika pulang pada pukul 23.00 WIB, saya bingung kok semuanya gelap. Saat itu saya baru tahu ada tsunami," ungkap Kino.Keluarga Kino juga semuanya selamat. Hanya rumahnya yang tidak lolos dari amuk gelombang raksasa itu. Rumahnya rusak parah. Karena itu, Kino dan keluarga saat ini tinggal di tempat pengungsian.Nasib yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan nelayan lainnya, Sutarman (66). Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Padjajaran ini bingung memikirkan kelanjutan hidup keluarganya.Tidak banyak yang bisa dikerjakan Sutarman saat ini. Padahal, sambung pria yang jadi nelayan sejak tahun 1970 ini, keluarganya butuh makan untuk menyambung hidup."Saya akan melaut kalau semuanya sudah normal, ya satu atau dua bulan lagi. Sekarang untuk makan sehari-hari terpaksa ngutang di warung," ujarnya. Di Pantai Pangandaran sendiri saat ini bertaburan 'bangkai' perahu nelayan. Dari ratusan perahu nelayan yang ada, hanya belasan yang tampak masih dalam keadaan layak pakai.Di laut sendiri ada beberapa perahu nelayan dimainkan ombak kecil. "Mereka tidak melaut, hanya bersandar saja," tutur Sutarman sambil memandang ke laut lepas yang menyimpan sejuta misteri.
(djo/)











































