Tsunami di Cilacap: Di Bawah Lindungan Nusakambangan
Jumat, 21 Jul 2006 09:41 WIB
Cilacap - Ketika gempa yang mengakibatkan tsunami di Pantai Pangandaran melanda, pusat kota Cilacap tak begitu rusak parah. Beda dengan Cilacap bagian timur seperti Kecamatan Adipala dan Binangun. Nusakambangan kuncinya. Warga Cilacap yakin, Nusakambangan melindungi pusat kota. Pulau tempat empat lembaga pemasyarakatan didirikan ini menahan gelombang pasang yang datang dari arah barat (Pantai Pangandaran) sehingga ombak tak dirasakan sedemikian besar. Saat tsunami datang, gelombang pasang di selatan pusat kota tak membuat orang lari tunggang langgang. Nelayan dan warga setempat menilai ombak itu sebagai gelombang pasang biasa. Hanya saja, kuantitas dan kualitasnya memang sedikit lebih tinggi. "Alhamdulillah ada Nusakambangan, Mas. Kalau tidak ada pulau itu, mungkin kawasan ini sudah rampung (remuk redam)," kata seorang nelayan, Zaenal (27), di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC), Jum'at (21/7/2006). Keyakinan serupa diungkapkan Nakun (29), warga Mertasari Lengkong, Cilacap Selatan. Meski sempat memorak-porandakan ratusan perahu di desa tersebut, gelombang pasang tak sampai menyentuh pemukiman. Efek lebih jauh, tak ada korban jiwa. Di Teluk Penyu juga demikian. Warga yang berada di tepi pentai saat tsunami datang tak terseret arus. "Saya hanya merasakan ombak sedikit lebih besar ketimbang biasanya. Saya lari ke darat dan selamat," kata Yanto (36) yang hendak berangkat ke laut saat tsunami datang. Dilihat dari posisi geografisnya, ketika dihadapkan dengan Samudera Hindia, PPSC, Teluk Penyu maupun Desa Mertasari Lengkong berada di balik Nusakambangan. Tak heran tsunami tak berdampak sangat serius. Gelombang pasang terlebih dulu membentur pulau sebelum sampai ke pantai selatan Kota Cilacap. Hal berbeda dirasakan warga yang tinggal di timur Kota Cilacap seperti Kecamatan Binangun dan Adipala. Karena tak ada penahan, ombak menggulung hingga ketinggian 6 meter. Bangunan dan sawah rusak parah, puluhan nyawa manusia melayang. Di dua kecamatan ini, gelombang pasang akibat gempa di Pantai Pangandaran begitu bebasnya meluncur dengan kecepatan tinggi. Sudah dapat ditebak, daratan sejauh 500 meter diterjang gelombang pasang. Memasuki hari ke-5 pascatsunami, tercatat 58 warga Binangun dan 44 warga Adipala tewas. Puluhan warga lainnya hilang. Bangunan di sekitar pantai seperti warung, posko nelayan, dan gardu pandang rata dengan tanah. Orang boleh takut dengan seramnya Pulau Nusakambangan karena di tempat itulah narapidana kelas kakap ditahan. Namun bagi sebagian warga, Nusakambangan adalah pelindung. Mereka merasa beruntung punya pulau itu.
(nrl/)











































