Rekomendasi Lengkap KNKT ke Sriwijaya Air Usai Kecelakaan SJ182

ADVERTISEMENT

Rekomendasi Lengkap KNKT ke Sriwijaya Air Usai Kecelakaan SJ182

Brigitta Belia - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 18:16 WIB
Jakarta -

Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) memberikan sejumlah rekomendasi kepada Sriwijara Air seusai insiden kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan SJ182 di Kepulauan Seribu pada 19 Januari 2021. Rekomendasi ini guna meningkatkan keselamatan selama penerbangan.

"KNKT masih melihat ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Untuk itu, KNKT menerbitkan rekomendasi keselamatan kepada Sriwijaya Air," kata Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo di Kantor KNKT, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2022).

Nurcahyo mengatakan KNKT merekomendasikan agar Sriwijaya Air berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelum melakukan perubahan prosedur terbang. Hal itu dikakukan guna menjamin prosedur terbang telah dilaksanakan sesuai dengan aturan.

"Jadi kalau ada perubahan prosedur terbang, maka Sriwijaya Air kami minta untuk berkonsultasi dengan Dirjen Perhubungan Udara supaya menjamin bahwa prosedurnya memang benar dan bisa dilaksanakan," ujarnya

Kedua, KNKT merekomendasikan Sriwijaya Air untuk meminta no technical objection (NTO) kepada produsen pesawat sebelum melakukan perubahan prosedur yang sudah ada di dalam buku panduan. Ini dilakukan, menurut Nurcahyo, untuk menjamin keselamatan.

"Jadi kalau prosedur terbang itu dibuat oleh pabrikan pesawat, maka Sriwijaya Air atau memang ingin mengubah kami minta untuk berkonsultasi dengan pabrik untuk menjamin bahwa perubahannya tetap bisa menjamin keselamatan," lanjutnya.

Sriwijaya Air juga diminta meningkatkan jumlah pengunduhan data dalam flight data analysis program (FDAP) untuk meningkatkan pemantauan operasi penerbangan. KNKT menyoroti pengunduhan FDAP yang selama ini dilakukan Sriwijaya Air.

"Meningkatkan jumlah pengunduhan data dalam flight data analysis program (FDAP) untuk peningkatan pemantauan operasi penerbangan. Jadi data yang kami peroleh adalah sebelum kecelakaan Sriwijaya Air rata-rata berhasil mengunduh sekitar 54 persen dari seluruh data penerbangan. 54 persen ini kami nilai masih kurang untuk bisa memantau secara menyeluruh performa awak pesawat maupun pesawatnya. Ini yang kita minta untuk ditingkatkan," tuturnya

Selanjutnya, maskapai tersebut juga diminta untuk menekankan pelaporan bahaya (hazard) kepada seluruh pegawai.

"Terakhir, untuk meningkatkan pelaporan bahaya (hazard) kepada seluruh pegawai. Bahwa saat ini Sriwijaya sudah memiliki sistem pelaporan, namun data yang kita peroleh ternyata bahwa sebagian besar pelapor bahaya ini berasal dari ground handling dan security. Sementara karyawan lain seperti pramugari, pilot, teknisi, masih sangat sedikit laporannya. Kita minta itu ditingkatkan," pungkasnya.

(lir/lir)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT