Pemerintah Jangan Hanya Andalkan Early Warning System
Kamis, 20 Jul 2006 12:45 WIB
Jakarta - Pemerintah sebaiknya tidak hanya memikirkan early warning system (EWS) sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kematian dan kerusakan akibat bencana gempa bumi dan tsunami.Menurut Dirjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Widi Agoes Pratikto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (20/7/2006), pelindung alami seperti terumbu karang, cemara laut, dan gumuk pasir dapat mengurangi ancaman tsunami."Pelindung alami seperti gumuk pasir, terumbu karang dan cemara laut saya lebih suka ke situ daripada early warning system, karena kita tidak punya uang bangun itu," jelas dia.Menurut Widi, pelindung alami lebih penting daripada early warning system. "EWS itu 30 menit, kita mau lari ke mana dalam waktu secepat itu," ujarnya.Selain perlindungan alami, Widi menjelaskan pemerintah sebaiknya juga mengatur pemukiman di pesisir pantai. Oleh karenanya pemerintah harus merevisi UU tata ruang."Nanti diatur tata ruang di pesisir pantai itu seperti apa. Harus ada lahan untuk bisa menampung air laut dan orang tidak bisa semaunya membangun rumah," tandasnya.Dengan penataan tata ruang di pesisir yang baik, maka dapat menjadi aset pariwisata bagi daerah tersebut. "Kalau pantai kumuh kan tidak dapat dijual. Kalau pantai bersih kan bisa dijual sebagai tempat pariwisata," ujar dia.Menurut Widi, DKP akan melakukan training for trainer di 6 provinsi yakni Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, NTB dan Sumatera Barat agar mereka mengetahui bagaimana cara menata pantai sehingga tidak terjadi ancaman yang membahayakan masyarakat."Diharapkan 6 provinsi itu dapat menjadi contoh bagi provinsi lain," kata dia.
(san/)











































