Tangan Tuhan Bersihkan Pangandaran dari PSK

Tangan Tuhan Bersihkan Pangandaran dari PSK

- detikNews
Rabu, 19 Jul 2006 13:53 WIB
Pangandaran - Ada sedikit kelegaan di tengah bencana gempa dan tsunami yang terpancar dari wajah Agus Geko, seniman asal Panuragan, Pangandaran. Agus lega, kini tidak ada lagi warung remang-remang yang telah mengotori Pantai Pangandaran.Warga Jalan Cijulang yang rumah sekaligus galerinya luluh lantak itu kepada detikcom mengaku tsunami yang terjadi Senin 17 Juli sore memberi banyak hikmah.Sebab, imbuh Agus, sebelum bencana terjadi, di sepanjang pantai barat Pangandaran terdapat ratusan kafe yang isinya pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah, seperti Tasikmalaya, Banjarnegara, Garut, Bandung, dan Indramayu.Rata-rata kafe tersebut mulai terdengar hingar-bingarnya pada pukul 19.00 WIB hingga dinihari. Selain menyediakan minuman keras, kafe tersebut rata-rata juga menyediakan kamar-kamar yang disewakan untuk tamunya yang ingin berkencan dengan PSK.Bisnis tersebut sangat menggiurkan, karena setiap orang minimal harus mengeluarkan Rp 400 ribu. Sebab untuk mengencani PSK, mereka harus mengeluarkan Rp 200 ribu dan sisanya untuk membeli minuman keras."Tsunami ini ada hikmahnya, tangan Tuhan telah menyapu bersih mereka dari Pangandaran. Jadi tidak perlu tangan aparat lagi untuk membersihkan Pangandaran. Pangandaran sudah lama kotor," katanya.Kafe-kafe yang cukup terkenal dengan PSK-nya, imbuh Agus, adalah Kafe Doyok, Kafe Jangkung, Kafe Herlina, Kafe Tiur, dan Kafe Bambu.Kafe-kafe ini sangat ramai pada malam Minggu. Saat itu masyarakat dari luar Pangandaran banyak berkunjung ke wilayah ini.Selain kafe-kafe tersebut, Pangandaran juga terkenal dengan Pasar Wisata-nya. Pasar ini bukan terkenal karena kerajinan khas Pangandaran, tapi karena PSK-nya lantaran 40 persen ruko di kawasan itu dijadikan tempat prostitusi. "Sekarang pasar itu terkenal dengan sebutan Pasar Wanita, bukan Pasar Wisata lagi," tutur Agus.PSK di kawasan Pangandaran, tutur Agus, tidak ada habis-habisnya. "Silih berganti, cepat sekali," kata Agus.Para PSK ini mulai ramai sejak tahun 1997 di saat Indonesia dilanda krismon, dan puncaknya tahun 2006. "Di sini yang benar-benar kafe hanya 10 persen, sisanya pasti menyediakan PSK," tutur Agus. (umi/)


Berita Terkait