Wantoro Basmi Buta Huruf Anak Suku Terasing
Selasa, 18 Jul 2006 18:57 WIB
Riau - Tidak semua orang mampu menjadi guru buat anak-anak pedalaman di Riau. Namun Yohanes Wantoro (37) seorang guru dari Yayasan Paryoga ini mampu bertahan dalam kawasan hutan demi menumpas buta huruf pada anak-anak Talang Mamak, suku pedalaman di Riau."Saya hadir di kawasan hutan penyanggah ini untuk bisa mengabdi memberantas buta huruf. Saya tidak tahu sampai kapan akan berada di kawasan ini. Sepanjang masyarakat masih membutuhkan, saya akan tetap mengabdi," kata Wantoro seorang guru sekaligus merangkap kepala sekolah nonformal di Dusun Siamang, Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu-Riau.Di dusun yang letaknya di kawasan penyanggah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) ini hanya terdapat sekitar 40 kepala keluarga Talang Mamak. Hidup mereka tidak jauh beda dengan suku Talang Mamak lainnya yang hidup dalam kawasan hutan tetap terbelakang, buta huruf dan miskin.Di sana tercatat ada 35 murid bersekolah nonformal yang dibangun Yayasan Prayoga berpusat di Padang dan berkiblat pada Katolik Roma. Yayasan ini membangun sebuah sekolah semipermanen yang terbuat dari dinding papan dengan tiga ruangan berlantai semen. Kendati siswanya terdata 35 orang, namun muridnya yang aktif mengikuti proses belajar setiap harinya tak lebih dari 13 orang."Murid-murid di sini banyak yang malas belajar. Mereka lebih senang ikut orangtuanya ke dalam hutan. Apalagi kalau musim panen padi, nyaris semua siswa saya dilibatkan orangtuanya untuk membantu di ladang. Beginilah kondisinya menghadapi anak-anak suku pedalaman di Riau," tutur Wantoro, bapak dari tiga anak asal Palembang, Sumatera Selatan dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (18/7/2006) di Indragiri Hulu (Inhu) Riau.Dalam dua tahun terakhir ini, sekolah itu hanya memiliki murid kelas satu sampai kelas tiga saja. Sedangkan murid-murid kelas empat sampai kelas enam sudah banyak yang berhenti. Walau demikian, Wantoro yang berdarah Jawa ini tetap sabar untuk terus mendekati orangtua murid agar anak-anak mereka bisa kembali ke sekolah. Kesabaran ekstra sangat dibutuhkan. Mengingat bersekolah memang bukan budaya dari suku pedalaman ini."Kita memang perlu bersabar untuk melakukan pendekatan pada walimurid. Mereka harus kita yakinkan bahwa sekolah itu penting untuk masa depan anak-anak mereka untuk bisa bersaing sebagaimana masyarakat luas lainnya," kata Wantoro yang sudah lebih dari tujuh tahun bersama istrinya Vinsensia Endang menjadi guru di dusun itu.Memberikan pelajaran untuk anak Talang Mamak ini tidaklah sama dengan memberikan pelajaran bagi anak-anak sebagaimana biasanya. Sang guru harus terlebih dahulu memperkenalkan bahasa Indonesia kepada muridnya. Paling cepat membutuhkan waktu setahun untuk memahami bahasa Indonesia.Susahnya memahami bahasa nasional lantaran memang selama ini orangtua mereka tidak pernah memperkenalkan bahasa nasional sebagai bahasa sehari-hari buat mereka. Bahasa ibu, sangat melekat buat anak-anak Talang Mamak ini.Itulah sebabnya, sebelum mereka masuk sekolah untuk mengikuti pelajaran sebagaimana lazimnya, Wantoro harus berjibaku memperkenalkan bahasa Indonesia. Hal itu penting dilakukan agar dalam memberikan pelajaran bisa dengan mudah dipahami muridnya."Dalam proses belajar mengajar ini, terlebih dahulu kita memperkenalkan bahasa Indonesia pada mereka. Setelah mereka paham, maka tahapan selanjutnya kita mengenalkan huruf dan angka-angka," cerita lulusan SPG di Palembang ini.Selama mengabdikan diri memberantas buta huruf pada anak-anak suku pedalaman ini, Wantoro setidaknya sudah pernah menamatkan tiga muridnya. Bagi murid kelas enam untuk mendapatkan ijazah setingkat SD, harus dirujuk ke sekolah dasar (SD) negeri terdekat dari dusun mereka. Walaupun sekolah ini pendidikan nonformal, namun setiap murid yang tamat bisa mendapatkan ijazah SD negeri."Dari tiga murid saya yang tamat itu melanjutkan ke jenjang berikutnya. Namun sayang, dua di antaranya berhenti karena tidak naik kelas. Sedangkan satunya saat ini sudah duduk di bangku kelas tiga SMP," kata Wantoro.Sebenarnya Wantoro juga sudah berusaha semaksimal mungkin memperjuangkan hak-hak muridnya mendapatkan Biaya Operasional Sekolah (BOS). Namun sekolah ini dianggap pemerintah daerah setempat bukanlah pendidikan formal, sehingga hak-hak dana BOS dari negara tidak pernah mereka cicipi."Saya sudah mencoba ke pihak Dinas Pendidikan di kecamatan untuk meminta dana BOS. Tapi usaha saya gagal. Mereka malah bilang, dana itu bisa didapatkan kalau sekolah kami ditutup dan muridnya pindah ke sekolah SD negeri," sesal Wantoro.Pindah ke SD negeri yang jauh dari Dusun Siamang itu, rasanya tidak mungkin. Sebab, jarak sekolah itu ke dusun mereka harus ditempuh perjalanan dua jam untuk ukuran orang dewasa. Itu artinya, anak-anak membutuhkan waktu minimal tiga jam sampai di sekolahnya. Ini belum lagi medan jalan yang berbukit-bukit. Apalagi kala malam hari turun hujan, jalan setapak di dalam hutan sangat susah untuk dilalui."Sekolah itu kan biasanya masuk pukul 07.15 WIB. Lah ke sekolahnya saja mesti ditempuh dengan waktu minimal tiga jam perjalanan, lantas anak-anak ini mau berangkat sekolah pukul berapa? Jadi yo ndak mungkin toh kalau mereka harus pindah sekolah," keluh Wantoro.
(sss/)











































