Marak Greenwashing, 8 Juta Ton Sampah Plastik Cemari Laut Tiap Tahun

ADVERTISEMENT

Marak Greenwashing, 8 Juta Ton Sampah Plastik Cemari Laut Tiap Tahun

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Kamis, 03 Nov 2022 09:54 WIB
Ilustrasi Sampah Plastik
Foto: shutterstock
Jakarta -

Media Jerman Deutsche Welle (DW) menyoroti tindakan greenwashing oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Sejumlah perusahaan raksasa diduga tak serius menepati komitmennya untuk mengatasi persoalan limbah plastik.

DW berkolaborasi dengan tim yang bergabung dalam European Data Journalism Network untuk mencari tahu keseriusan perusahaan dalam menangani limbah plastik, sesuai klaim mereka. Ratusan data perusahaan, website, dan pemberitaan diperiksa untuk mengecek klaim tentang kemasan dan limbah plastik perusahaan.

"Ada 100 komitmen dari 24 perusahaan yang faktanya tidak begitu baik," tulis DW dalam laporan dengan headline 'How These Companies Tried to Greenwash Their Plastic Waste' yang dipublikasikan pada 14 Oktober lalu.

DW menyoroti salah satu perusahaan F&B multinasional yang menjadi produsen produk susu, juga dikenal sebagai produsen AMDK botol plastik global. Menurut DW, pada 2009, perusahaan itu menyatakan komitmennya untuk menggunakan 20%-30% botol plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) hasil daur ulang pada 2011. Tapi, menurut DW, janji itu gagal dipenuhi.

Menurut DW, akibat janji kosong itu sampah plastik dari produk yang dipasarkan mengotori alam.

"8 juta ton limbah plastik berakhir di lautan setiap tahun," papar DW.

DW menjabarkan dunia menghasilkan 350 juta ton sampah plastik pada 2019, tapi diperkirakan hanya 9% yang didaur ulang.

"Sebagian besar justru menyampah di lingkungan, sehingga meracuni lautan, tanah dan udara yang kita hirup," demikian ditulis dalam laporan mereka.

Rendahnya tingkat daur ulang sampah plastik, khususnya di Indonesia, dibenarkan oleh Wawan Some dari Komunitas Nol Sampah.

"Daur ulang di Indonesia sangat rendah, bahkan di dunia pun sangat rendah," ungkap Wawan.

Wawan menjabarkan permasalahan sampah plastik cukup kompleks. Selain plastik yang digunakan sangat beragam, masyarakat tidak pernah melakukan pemilahan langsung dari sumbernya. Menurut Wawan, ketika sampah plastik segala jenis bercampur maka butuh biaya yang sangat besar untuk pengolahannya.

"Sentra-sentra daur ulang pun hanya di titik-titik tertentu," sebut Wawan.

Di sisi lain, penggunaan galon guna ulang untuk air minum dalam kemasan merupakan salah satu opsi untuk menekan produksi limbah plastik. Namun, paparan bahan kimia BPA yang bisa membahayakan konsumen menjadi persoalan lain dari penggunaan galon guna ulang.

Untuk menghindari risiko kesehatan, BPOM RI merumuskan regulasi pelabelan BPA di galon guna ulang. Regulasi dan pengetatan BPA seperti itu sudah dilakukan di banyak negara.

Senada dengan BPOM, Zainal Abidin dari Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Fakultas Teknologi Industri, ITB menyatakan perlunya ada peringatan pada kemasan galon.

"Paparan sinar matahari akan merusak kimia dari galon itu sendiri, dan proses kerusakannya bisa melarutkan bahan-bahan kimia yang membahayakan air yang ada di dalamya," ujar Zainal Abidin.

"Saran saya, harus ada anjuran yang tegas dari produsen, agar (galon guna ulang) disimpan di tempat yang tidak terpapar sinar matahari langsung, dan di tempat yang teduh," pungkasnya.

(akn/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT