Ny Satinem: Saya Digulung-gulung Ombak dan Terbentur Benteng

Ny Satinem: Saya Digulung-gulung Ombak dan Terbentur Benteng

- detikNews
Selasa, 18 Jul 2006 13:47 WIB
Banjar - Ny Satinem masih ingat kejadian menakutkan yang dialaminya. "Saya digulung-gulung ombak dan terbentur benteng jalan dua kali," kata Satinem mengisahkan tsunami yang menyerang Laut Selatan Jawa. Satinem kini terbaring lemah di RS Banjar, Jawa Barat. Saat detikcom menemuinya, Selasa (18/7/2006), Satinem dirawat di selasar RS, karena ruang perawatan sudah penuh. Nenek berumur 53 tahun ini mengalami luka memar. Sejumlah anggota tubuhnya bengkak. "Badan saya terasa remuk. Kalau saya batuk, juga keluar darah," aku Satinem. Saat ini, Satinem ditunggui oleh salah seorang anak dan cucunya. Sebelum tsunami menerjang, Satinem memiliki warung di kawasan Pantai Pananjung, Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Warung yang berada di bibir pantai itu dia namai dengan 'barokah'. Meski terbaring lemah, namun Satinem masih bisa berbagi kisah sedih yang dialaminya ini. Saat itu, sekitar pukul 15.30 WIB, Senin (17/7/2006), dirinya baru saja selesai makan siang. "Setelah makan, saya tidur-tiduran di warung," kata dia. Tak lama kemudian, dirinya dikejutkan oleh teriakan sesama pedagang. "Bu, ada ombak besar," teriak seorang pedagang kepada Satinem. Saat itu, Satinem langsung bangkit dari tidurnya. Wuih!! Dia melihat ombak laut bergulung-gulung setinggi 4 meter yang menuju ke arahnya. Kontan saja, Satinem langsung berlari sekeras mungkin, karena bahaya mengancam. Satinem mengarah ke sebuah vila yang berbangunan tingkat. "Airnya bergulung-gulung empat meter. Saya mau lari ke sebuah vila. Tapi sebelum sampai di vila, airnya keburu menerjang saya. Saya digulung-gulung dan dua kali saya kebentur benteng jalan," urai dia. Saat itu, dirinya juga sempat melihat sepeda motor milik tukang ojek yang juga digulung ombak. Motor itu sebelumnya diparkir di dekat warungnya. "Alhamdulillah, saya masih dikasih barokah, seperti nama warung saya. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan hidup," ujar Satinem memuji Tuhan. Yang agak mengherankan, kata Satinem, sebelum tsunami terjadi, dirinya tidak merasakan gempa sama sekali. "Yang selama ini terjadi, sebelum tsunami kan ada lindu (gempa) dulu. Saya tidak merasakan ada lindu sebelumnya," ujar dia. Satinem kini hanya bisa pasrah. Kejadian ini tentu sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa. Warungnya di bibir pantai Pananjung sudah tidak berbekas, kesapu ombak air laut. Dirinya kini sudah tidak punya apa-apa lagi. "Saya sudah tidak punya apa-apa. Hancur semua. Yang saya punyai sekarang hanya anak-anak dan cucu. Karena itu saya berharap pemerintah mau membiayai perawatan saya," pinta Satinem. (asy/)


Berita Terkait