Khawatir Tsunami, Warga Tulungagung Mengungsi
Selasa, 18 Jul 2006 12:57 WIB
Surabaya - Bencana tsunami yang melanda kawasan Laut Selatan Jawa membuat trauma masyarakat dan nelayan yang tinggal di pesisir pantai selatan Jawa Timur. Di Tulungagung, ratusan warga yang tinggal di Desa Sidem, Kecamatan Popoh, terpaksa mengungsi sejak Senin (17/7/2006) sore setelah ketinggian ombak di pantai selatan meninggi."Kemarin petang memang ada nelayan yang menyaksikan bahwa ombaknya besar seperti tsunami. Warga langsung berkemas menyelamatkan diri menuju perbukitan," ungkap Musaji, seorang warga Desa Sidem kepada wartawan, Selasa (18/7/2006).Dia mengaku kabar dari nelayan yang akan melaut itu membuat panik masyarakat. Sebab rasa trauma akibat tsunami di Aceh belum reda. Dengan membawa pakaian, harta benda dan ternak, mereka berlari menuju kawasan perbukitan yang tidak jauh dari tempat pemukiman mereka di pinggir pantai. Kepanikan warga juga dipicu informasi dari media elektronik yang menyiarkan musibah tsunami yang menerjang beberapa daerah di pesisir pantai di Jawa Barat dan Yogyakarta serta Jawa Tengah.Di perbukitan itu, semalam warga mengungsi dengan membawa perabotan serta hewan ternaknya. "Sekarang sebagian sudah ada yang turun, tapi masih juga ada yang masih takut," kata Ibu Warsiti yang baru saja turun dari perbukitan.Warsiti menyatakan, warga belum sepenuhnya yakin apabila kondisi daerahnya aman dari terjangan tsunami. "Rasa takut dan was-was tetap ada," imbuhnya.Rasa traum juga dialami nelayan di Pantai Popoh. Hari ini mereka memilih libur melaut khawatir terjadi tsunami. Sebab Senin petang, ombak besar telah menghancurkan sebuah kapal milik nelayan.Menurut Roni, seorang nelayan lainnya, ombak besar yang menghantam pantai kemarin petang telah menimbulkan ketakutan yang besar kepada nelayan. Selama puluhan tahun mencari ikan di pantai ini, baru kali ini dirinya melihat ombak yang begitu besar menggulung perahu mereka."Ombak kemarin sore sangat besar, belum pernah terjadi selama ini. Perahu di sini banyak yang terhempas dan rusak," ungkap Roni.Karena trauma dan tidak bisa melaut akibat kerusakan pada perahu mereka, pada nelayan ini memutuskan untuk tidak melaut. Mereka baru akan memulai aktivitas melaut setelah ombak benar-benar reda.
(asy/)











































