Takut Tercemar, Petambak di Sidoarjo Ancam Demo Lapindo
Senin, 17 Jul 2006 19:12 WIB
Sidoarjo - Khawatir tambaknya tercemar akibat luapan lumpur yang mencemari sungai, membuat pemilik tambak resah dan mengancam akan demo besar-besaran ke Lapindo Brantas Inc sebagai perusahaan yang dianggap bertanggung jawab atas musibah tersebut.Tidak hanya kantor Lapindo, para pemilik tambak yang tergabung dalam beberapa Paguyuban Tambak se-Kabupaten Sidoarjo juga mengancam akan menduduki kantor Pemkab Sidoarjo.Mereka tergabung dalam beberapa kelompok, antara lain Kelompok Petani Tambak Organik Sidoarjo (KPTOS), Paguyuban Petani Tambak Tradisional Sidoarjo, Paguyuban Koperasi Minta Alam Lestari, dan beberapa paguyuban petani tambak. Mereka mengklaim akan mengerahkan 6.000-an orang.Sebelumnya Aliansi Petani Tolak Lumpur Lapindo (APTL2) sudah menggalang ribuan tanda tangan petani tambak se-Kabupaten Sidoarjo."Bila tidak ada respons dari pihak terkait tentang tuntutan kami, maka kami akan mengerahkan para petani tambak untuk demo besar-besaran," ujar Iwan Hamzah, salah seorang pengurus Paguyuban Petani Tambak Tradisional Sidoarjo kepada wartawan di Porong, Kabupaten Sidoarjo, Senin (17/7/2006).Rencana turun jalan ini dipicu luapan air dan lumpur yang telah mengalir ke Sungai Gempolsari, yang mengalir langsung ke areal pertambakan."Selain sudah mencemari areal pertambakan, sampai saat ini tidak ada statemen dari pemerintah terkait kandungan lumpur dan air dari luapan lumpur Lapindo," kata Ketua KPTOS Syaiful Bahri yang didampingi salah satu pengurusnya, Damuri.Selama ini belum ada upaya dari Dinas Perikanan dan Kelautan untuk mencarikan solusi terhadap permasalahan ini. "Harusnya hasil uji laboratorium terkait kandungan lumpur itu diumumkan, agar tidak membuat cemas petani tambak," ujar Syaiful Bahri.Tidak digubrisHingga kini di sepanjang sungai ini sudah tercemar lumpur. Menurut Damuri, salah satu pengurus KPTOS, aksi demo besar-besaran ini akan dilakukan petani dalam waktu dekat jika tidak ada tanggapan serius."Sebab dampak rembesan lumpur yang mengalir ke sungai Gempolsari, Penatar Sewu dan areal pertambakan lainnya sudah mencemari tambak. Selain itu selama ini tidak ada kepastian terkait kandungan lumpur dan airnya itu," ujar Damuri atau yang akrab dipanggil Haji Nunung ini.Aliansi Paguyuban Petani Tambak telah mengirim pernyataan sikap pada 10 Juli lalu ke Pemkab Sidoarjo yang berisi penolakan luapan lumpur dan air lumpur dibuang ke sungai melalui areal tambak.Alasannya, jika dipaksakan maka bukan hanya areal pertambakan yang ada di Kecamatan Porong dan Tanggulangin saja yang tercemar, namun areal pertambakan di 4 kecamatan lainnya akan tercemar.Namun hingga kini belum juga ada tanggapan. Padahal kalau terus dibiarkan aliran lumpur mengalir ke sungai, semakin banyak areal pertambakan yang akan tercemar. Selama ini belum ada upaya dari Dinas Perikanan dan Kelautan untuk mencarikan solusi terhadap permasalahan ini.
(sss/)











































