Sepanjang Bibir Pantai Pangandaran Terendam Air Laut

Sepanjang Bibir Pantai Pangandaran Terendam Air Laut

- detikNews
Senin, 17 Jul 2006 17:41 WIB
Jakarta - Gelombang pasang tiba-tiba mengejutkan warga Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat pukul 16.40 WIB. Mereka tidak mengira akan ada gelombang pasang, karena sebelumnya tidak merasakan gempa. Kini, sepanjang bibir Pantai Pangandaran terendam air laut. Gelombang pasang atau yang dikenal dengan 'tsunami' ini terjadi diduga akibat gempa 5,5 SR pada pukul 15.19 WIB, Senin (17/7/2006). Beberapa gempa susulan masih terjadi sejak gempa pertama hingga munculnya tsunami. Mengenai kekuatan gempa, informasi dari BMG berbeda-beda. Data dari BMG Pusat, gempa pertama berkekuatan 5,5 SR. Namun, BMG Denpasar menginformasikan bahwa gempa pukul 15.19 WIB berkekuatan 6,8 SR. Iwan, warga Desa Cikembulan, Pangandaran, Ciamis saat dihubungi detikcom mengaku tidak merasakan getaran gempa sebelumnya. "Saya tidak merasakan gempa. Tiba-tiba setengah jam lalu gelombang pasang naik ke pemukiman," kata Iwan. Desa Cikembulan termasuk berada di pinggir pantai Pangandaran. "Cikembulan selatan berada di pinggir pantai, sedang Cikembulan utara berada di dataran tinggi. Yang terkena gelombang pasang Cikembulan selatan," ujar dia. Informasi yang didapatkan Iwan, semua bibir pantai Pangandaran sudah terendam air. Bangunan-bangunan di pinggir pantai juga tersapu. "Bibir pantai semua kena. Dari Babakan, Parigi, dan Cijulang, semua terkena gelombang naik," kata dia. Iwan dan para tetangganya selamat dari amukan gelombang pasang ini. Saat ini, Iwan dan para tetangganya sudah berada di sebuah bukit, berjarak sekitar 2 KM dari bibir pantai. "Kami sudah mengungsi ke bukit ini, sepertinya aman," ujar Iwan yang saat dihubungi masih terengah-engah ini. Kepanikan warga saat menyelamatkan diri sangat terlihat. "Semua panik. Ada yang berlari, pakai motor, pakai mobil. Sangat panik," kata dia. Banyak warga yang mengungsi tanpa membawa barang apa pun, hanya sehelai baju. Hingga sekarang, warga masih panik. Warga Cikembulan yang mengungsi ini juga merasa was-was dengan para saudaranya. Sebab, banyak keluarga mereka yang bekerja sebagai nelayan dan tinggal di pinggir pantai Pangandaran. (asy/)


Berita Terkait