Seragam dan Tas Baru Anak Korban Gempa
Senin, 17 Jul 2006 14:31 WIB
Bantul - Tahun ajaran baru dengan tas, seragam, dan buku tulis baru juga berlaku bagi siswa-siswa korban gempa bumi di Bantul. Namun, sebagian besar mereka mendapatkan barang-barang baru itu dari bantuan berbagai donatur. Hal itu terlihat di SDN I dan II Dusun Putren, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Senin (17/7/2006). Meski masih diliputi kesedihan, namun para siswa datang ke sekolah dengan ceria dan gembira. Ada siswa yang diantar orangtuanya, namun ada pula yang datang sendiri mengendarai sepeda atau jalan kaki.Setelah tiba di halaman sekolah, siswa kelas II hingga VI langsung berbaur dengan kawan akrabnya dulu. Sebagian dari mereka bermain di sekitar tenda tempat belajar, ada pula yang bermain di puing-puing reruntuhan kelas. Sedangkan siswa baru yang masuk ke kelas I masih tampak canggung. Mereka ditemani orangtua masing-masing.Tas dan beberapa peralatan belajar yang dibawa seperti pensil, buku, rautan, dan penghapus tampak baru. Demikian pula dengan seragam sekolah yang dikenakan, seperti baju, celana, rok dan topi juga tampak baru. Bentuk tas yang dibawa hampir sama, tas punggung atau ransel. Yang membedakan hanyalah gambar atau tulisan saja. Murid putra kebanyakan mendapat tas ransel bergambar Superman atau Spiderman warna hitam, merah dan biru. Sedangkan mayoritas murid perempuan membawa tas bergambar motif bunga, tokoh komik Kermit atau bertuliskan 'beautiful day' warna pink, krem dan biru muda. Ketika detikcom menanyakan kepada beberapa siswa SDN II Putren, mereka langsung menjawab bahwa tas tersebut sebagian besar adalah pemberian bantuan lengkap dengan alat tulis. "Ini diberikan sebelum kenaikan kelas," kata Arifianto (11), siswa kelas V.Menurut dia, sebagian temannya menerima bantuan tersebut saat di sekolah. Tetapi, sebagian ada pula yang menerima bantuan lewat desa atau dusun. Bantuannya beragam. Ada yang hanya tas beserta alat tulis saja, tapi juga ada yang seragam sekolah. Arif mengaku senang bisa kembali ke sekolah bertemu dengan beberapa temannya, meski tidak bisa lagi belajar di gedung sekolah yang lama. Sebab ruangan kelas sudah rata dengan tanah. Puing-puing reruntuhan tembok kelas hingga kini belum dibersihkan dan masih dibiarkan menumpuk. "Di sini masih ada tropi dari kelas kami saat juara lomba, serta buku dan meja kursi yang masih tertimbun," kata Arif sambil menunjukkan tempat reruntuhan itu. Saat ini, dia belajar di tenda darurat bantuan Unicef dan duduk secara lesehan beralaskan tikar plastik. Satu tenda peleton ukuran 6 x 12 meter dijadikan dua kelas. Siswa kelas III dan IV belajar satu tenda, tapi tempat duduknya saling membelakangi. Demikian pula dengan kelas V dan VI juga saling membelakangi. Arif bersama teman-temannya yang kelas V belajar menghadap ke selatan. Untuk siswa kelas VI menghadap ke utara sambil duduk lesehan. Sedangkan siswa kelas I dan II berada di tenda lain, tapi masih dapat duduk di kursi dan meja yang berhasil diselamatkan.Guru yang mengajar di tenda, tanpa meja kursi dan ikut duduk lesehan. Sang guru hanya menggunakan meja kecil ukuran 40 x 60 cm. Sedangkan guru yang mengajar di kelas I dan II masih menggunakan meja untuk menaruh tas atau buku dan dapat duduk di kursi."Semuanya rusak baik meja, kursi, buku-buku di perpustakaan dan 6 gedung sekolah juga roboh. Yang tersisa hanya tempat tinggal penjaga malam sekolah dan rumah dinas yang dipakai untuk ruang guru untuk sementara," kata Sunarto, Kepala SDN II Putren.
(asy/)











































