Duh! 30% Korban Perdagangan Manusia Warga Indonesia
Senin, 17 Jul 2006 12:07 WIB
Jakarta - Sekitar 30 persen dari 1,2 juta korban perdagangan manusia di dunia berasal dari Indonesia. Umumnya mereka diperdagangkan sebagai pekerja seks."Rata-rata mereka masih anak-anak hingga berusia 25 tahun. Mereka adalah usia-usia produktif," ujar Ketua RUU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) Latifah Iskandar dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/7/2006).Praktek perdagangan manusia ini telah terjadi dalam skala luas di berbagai kota di Indonesia. Kota-kota tersebut dibagi berdasarkan daerah sumber, daerah transit dan daerah tujuan.Kota-kota itu antara lain Medan, Jakarta, Batam, Bandung, Solo dan Surabaya. "Kota-kota ini menonjol sebagai daerah transit dan tujuan, baik di Indonesia maupun perdagangan lintas negara," ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.Sementara itu duta nasional antitraficking Dewi Hughes menyatakan angka perdagangan manusia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan korupsi di lembaga negara."Mereka bisa dapat paspor dan visa dengan mudah. Ini karena adanya kecenderungan korupsi di lembaga negara," ujar Hughes.Traficking, jelas dia, adalah bentuk perbudakan di zaman modern. Manusia yang menjadi korban traficking telah dijelaskan dengan cara-cara yang tidak manusiawi. "Mereka dijebak, misalnya melalui utang dan dipaksa untuk bekerja. Sebagian juga perbudakan dilakukan berkedok adopsi, bahkan juga organ tubuh anak-anak yang diadopsi menjadi barang dagangan," beber presenter acara anak-anak ini.
(san/)











































