Semakin 'Panas', Playboy Dianggap Menantang Masyarakat
Senin, 17 Jul 2006 06:03 WIB
Jakarta - Majalah Playboy edisi Juli 2006 sudah beredar. Dengan tampilan yang lebih 'panas', Pengamat Komunikasi UI Effendy Ghazali menilai penerbit seolah menantang kelompok-kelompok yang selama ini menolak untuk kembali melakukan unjuk rasa."Ini menjadi semacam pembenaran bagi mereka yang menolak Playboy untuk kembali berdemo," ujar Effendy ketika dihubungi detikcom, di Jakarta, Senin (17/7/2006).Namun dia buru-buru melanjutkan pernyataanya dengan meminta kelompok-kelompok yang menentang itu menggunakan cara yang cerdas dan berbudaya dalam menyampaikan aspirasinya."Mari sama-sama kita gunakan jalur hukum. Ada Dewan Pers lembaga yang berwenang menyelesaikan masalah ini. Jangan menggunakan cara-cara kekerasan," tegasnya.Jika nantinya Dewan Pers memutuskan untuk edisi yang ketiga ini Majalah Playboy telah melanggar kode etik dengan menampilkan pornografi dipastikan penerbit majalah itu akan mendapatkan sanksi. Namun jika Dewan Pers menganggap Majalah Playboy tidak melanggar aturan, maka masyarakat harus bisa menerimanya."Sayangnya aturan hukumnya tidak jelas," katanya.Ditambahkan Effendy, di zaman seperti sekarang ini, hal-hal yang berbau pornografi memang semakin tidak bisa dibendung. Yang diperlukan sesungguhnya adalah pengaturan dan pembatasan distribusinya ketimbangan pelarangan."Masyarakat juga harus seimbang menilai ini. Majalah seperti ini kan bukan cuma Playboy," tandasnya.Seperti diberitakan sebelumnya, Majalah Playboy edisi Juli 2006 sudah mulai beredar sejak beberapa hari ini. Di edisi ketiganya di Indonesia ini, penerbit sepertinya mulai menunjukkan jati diri sesungguhnya majalah pria dewasa ini.Cover Playboy edisi ketiga ini bergambar perempuan yang memakai celana dalam hitam dan jaket warna abu-abu tanpa memakai bra. Model cover itu bernama Visensa Nyssa Yuliani.
(bal/)











































