Ketua MPR Minta Pejabat Negara Sumbangkan Gaji ke-13
Minggu, 16 Jul 2006 15:59 WIB
Klaten - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nurwahid meminta kepada semua pejabat menyumbangkan gaji ke-13 yang akan diterima untuk membantu korban bencana. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan rasa empati terhadap warga yang terkena bencana atau musibah.Hal itu diungkapkan Hidayat Nurwahid seusai memberikan pengajian dan bantuan dana pembangunan musala Istiqomah di Dusun Sunggingan Wetan, Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (16/7/2006)."PKS sudah memutuskan untuk memberikan gaji ke-13 nya, karena itu kami juga meminta untuk pejabat negara lainnya melakukan hal yang sama," tandas Hidayat.Dia juga mengusulkan agar peraturan yang mengatur pejabat negara mendapatkan gaji ke-13 agar diubah. Mereka yang termasuk pajabat negara untuk masa yang akan datang hendaknya tidak mendapat gaji ke-13. Hanya saja masalahnya, karena sudah ada aturan yang mengatur hal itu, maka tahun ini mereka tetap menerima gaji ke-13. Namun hendaknya gaji ke-13 yang diterima itu diberikan kepada yang lain, terutama warga yang tertimpa bencana gempa. "Karena sudah ada aturan yang termaktub mengenai hal itu, peraturan atau undang-undang tersebut seharusnya direvisi. Selanjutnya secara permanen, pejabat negara tidak dapat lagi," ujar Nurwahid.Selain pejabat negara tidak mendapat gaji ke-13, dia juga setuju bila yang mendapatkan gaji ke-13 itu adalah para pegawai negeri sipil (PNS), TNI/Polri. Sebab merekalah yang dinilai lebih layak menerima gaji ke-13 tersebut.Dalam pengajian selama lebih kurang 1 jam itu, Hidayat juga bercerita mengenai kenangan masa kecil tinggal di wilayah Prambanan Klaten. Tempat tinggal semasa kecil bersama orangtuanya di Dusun Kadipaten, Desa Kebondalem Kidul, termasuk sewaktu menuntut ilmu di sekolah dasar (SD) Kebondalem Kidul yang saat ini ikut roboh terkena gempa."Tempat tinggal saya juga tidak jauh dari Dusun Sunggingan Wetan di Desa Pereng ini dan kondisinya sama, rumah banyak yang roboh dan rusak karena gempa," katanya. Dia juga menceritakan pengalaman sewaktu kecil bersama beberapa temannya ketika harus mencari anak ikan gabus, sepat dan belut di sungai dan sawah sekitar Desa Pereng. Sepulang sekolah dirinya sering bersama-sama temannya mencari ikan di saluran irigasi yang ditanami pohon tebu."Saya juga sering menggembala kambing untuk mencari rumput, karena ayah saya sempat membeli beberapa ekor kambing di rumah," katanya.Setiap sore hari, Nur panggilan akrabnya, selalu mengaji di tempat Kiai Markum seorang guru agama yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. "Saya banyak belajarilmu agama dari beliau dan terus mengaji setiap sore," kenang Hidayat.
(san/)











































