Ketua FPG DPRD Tanggamus Babak Belur Dikeroyok di DPR
Minggu, 16 Jul 2006 15:00 WIB
Jakarta - Gedung DPR RI ternyata tidak aman. Aksi premanisme bisa leluasa terjadi. Ketua FPG DPRD Tk II Kabupaten Tanggamus Lampung, Salamun, babak belur dihajar sekelompok orang di dalam kawasan gedung rakyat itu.Nasib naas yang dialami Salamun terjadi pada Senin 10 Juli, sekitar pukul 21.15 WIB. Saat itu dia tengah mengikuti jalannya rapat kerja Komisi II dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), yang salah satunya agendanya adalah membahas masalah polemik Gubernur Lampung.Saat salah satu fraksi menyampaikan pandangannya tentang polemik Gubernur Lampung, Salamun yang duduk di 'fraksi' balkon, sempat beberapa kali berteriak 'Allah Akbar'. Dia melakukan itu untuk memberikan suport karena merasa sependapat dengan fraksi tersebut.Ketika itulah seorang lelaki tiba-tiba menghampiri Salamun. Orang tersebut mengajak Salamun turun dan mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu di tempat parkir mobil.Tanpa curiga sedikitpun, pria kelahiran 1973ini mengikuti ajakan orang tersebut. Dia yakin lingkungan gedung DPR adalah tempat yang aman. Sesampainya di tempat parkir, tiba-tiba orang yang mengajak Salamun memaksanya masuk ke dalam sebuah sedan."Di dalam mobil sedang itu terdapat beberapa orang. Saya ditanyai soal sikap saya di balkon tadi. Mereka bilang ngapain kamu bikin berisik," ujar Salamun kepada detikcom, di RS Polri dr Soekamto, Kramat Jati, Jakarta, Minggu (16/7/2006).Selanjutnya Salamun untuk pindah ke mobil lainnya jenis minibus. Mobil itu kemudian bergerak menuju tempat yang sepi, namun masih berada di lingkungan gedung DPR.Di tempat sepi itu Salamun kemudian dihajar. Berkali-kali Salamun minta ampun tapi tidak digubris. Pukulan dan tendangan berulangkali hinggap di tubuhnya. Setidaknya ada 6 pria yang melakukan kekerasan terhadap Salamun pada malam itu."Saya disuruh mencium kaki mereka untuk meminta maaf. Tapi saya hanya mencium tangan mereka. Terus terang saya lakukan itu karena takut dan panik. Saya ingin agar semuanya segera selesai," kata Salamun.Akibat kejadian itu, sekujur tubuh Salamun memar dan terasa sakit. Dadanya terasa sesak setiap kali menarik nafas panjang. Saat ditemui di RS Polri, Salamun nampak masih lemas dan trauma akan kejadian itu."Saya khawatir orang tua saya ikut jadi korban. Pelaku mengancam akan menghabis saya dan keluarga jika kasus ini menyebar," katanya sambil terisak.Rasa khawatir itu pula yang membuat Salamun terlambat melaporkan peristiwa penganiayaan ini kepada polisi. Kasus main hakim ini baru dilaporkan Salamun ke Polres Jakarta Pusat pada Jumat 14 Juli.Ketua Badan Hukum dan HAM DPD Partai Golkar Lampung, Aziz Syamsudin, mengatakan polisi harus mengusut tuntas kasus ini. Tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun."Kasus ini adalah yang kedua kalinya, setelah pemukulan terhadap anggota Komisi I DPR Ade Daud Nasution. Polisi harus mengusut tuntas agar ke depan tidak terulang," kaat Aziz.
(djo/)











































