PM Ehud Olmert Khianati Sharon
Minggu, 16 Jul 2006 09:49 WIB
Jakarta - Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Olmert dianggap telah mengkhianati perjuangan dari pendahulunya Ariel Sharon. Proses perdamaian di Timur Tengah yang dirintis Sharon menjadi berantakan."Pada awalnya (kebijakan) dia sama dengan Sharon. Tapi setelah menjadi PM, ada policy yang diubah," kata pengamat Timur Tengah asal LIPI Hamdan Bashar saat dihubungi detikcom, Minggu (16/7/2006).Hamdan menjelaskan, Olmert yang juga berasal dari Partai Likud itu, seharusnya memiliki kebijakan yang sama. "Sepertinya dia ketakutan terhadap kelompok garis keras yang tidak ingin wilayah Israel menjadi habis," ujarnya.Para kelompok garis keras itu, lanjutnya, sangat kecewa dengan tindakan dari Sharon yang menarik pasukan Israel dari Jalur gaza. Menurut mereka tindakan Sharon tersebut justru akan mengurangi wilayah negara Yahudi tersebut.Hamdan pun memperkirakan, tindakan israel ini juga terkait dengan melonjaknya harga minyak dunia. Saat ini harga minyak dunia terus merangkak ke harga US$ 80 per barel."Kenaikan harga minyak itu sebenarnya urusan dari Amerika Serikat. Dan negara-negara Arab yang memiliki ladang minyak terbesar. Ini perlu dipertanyakan, kenapa AS tidak segera ikut mengecam tindakan Israel itu," ujarnya.Israel beralasan agresi itu dilandaskan atas tindakan Hizbullah yang menahan 2 tentara Israel. "Itu hanya dalih mereka saja. Mereka ingin menunjukkan kalau mereka lah yang terkuat di kawasan itu. Terlebih lagi dengan adanya kenaikan harga minyak. Itu bisa menjadi salah satu alasan," urainya.
(ary/)











































