10 Rumah Tahan Gempa Tahap II Diserahkan Warga Pleret
Sabtu, 15 Jul 2006 15:40 WIB
Bantul - Setelah menyelesaikan pembangunan 10 unit rumah permanen tahan gempa pada awal Juli lalu. Hari ini, Sabtu (15/7/2006) diserahkan lagi 10 unit rumah kepada warga Dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul.Dengan demikian sudah 20 unit dari 148 unit rumah permanen selesai dibangun di Dusun Kedaton Kidul, Pleret. Pembangunan rumah secara gotong royong bersama warga yang terkena bencana, didukung oleh lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jogja Recover serta beberapa donatur.Warga yang mendapat giliran saat ini adalah warga miskin dan sebagian anggotanya keluarga meninggal akibat gempa. Salah seorang warga, Imam Tohaji (55), saat menerima rumah itu masih harus dipapah anggota keluarganya. Dia mengalami luka berat di bagian tulang panggul sehingga lumpuh akibat tertimpa rumah. Sambil berjalan tertatih-tatih, dia menerima secara simbolis kunci rumah. Saat menerima kunci rumah, wajah gembira tampak terlihat dari raut wajah mereka. Saat menerima Imam harus berjalan dibantu tongkat penyangga. Namun bila berjalan jauh terpaksa harusdinaikkan di atas gerobak yang didorong salah satu anaknya.Selain Imam Tohadi, hari ini yang meneima rumah adalah Darmo, Parwoto, Widodo, Moh. Danuri, Sudardi, Iman Sujono, Buang, Dulah Komari dan Sarmidi.Salah seorang tokoh warga Dusun Kedaton Kidul, Sumarsono seusai acara kepada detikcom menuturkan selama 60 hari ini warga secara gotong royong sudah mampu membangun 20 unit rumah. Dalam waktu dekat ini akan selesai beberapa unit rumah lagi. Saat tim juga sudah membangun pondasi untuk beberapa rumah berikutnya.Untuk mencukupi kebutuhan batu-bata, warga bergotng rotong mencetak batu-bata sendiri. Bahan baku diambil dari pekarangan rumah warga dan lahan sawah. Di lapangan Kedaton warga sudah mencetak 50 bata, sedang di sawah sudah mencetak 25 ribu. Setiap hari warga yang berjumlah 20-an orang mampu mencetak 7-8 ribu batu bata. "Sebanyak 75 ribu bata itu sudah dibakar dan jumlah 75 ribu itu dapat untuk mendirikan 7 unit rumah," katanya. Sumarsono mengaku meski sebagian besar rumah arga Kedaton hancur, warga tidak patah semangat. Mereka, sebagian besar bekerja sesuai keahlian, yakni tukang kayu membuat kerangka bagian atas rumah, kusen, pintu dan jendela. Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai tukang batu untuk membuat pondasi dan tembok."Yang punya keahlian membuat bata juga bekerja mencetak dan membakar bata. Sedangkan ibu-ibu bertugas memasak di dapur umum untuk mencukupi kebutuhan makan-minum mereka," katanya.Menurut dia, saat ini warga sudah tidak punya apa-apa lagi. Apabila warga harus menyediakan uang sekitar Rp 20 - 40 juta untuk membangun rumah pasti tidak mampu. Namun dengan gotong royong bersama berbagai kesulitan dana itu dapat terpecahkan. "Beberapa bahan bangunan seperti daun pintu dan jendela dan kayu-kayu yang masih bisa dimanfaatkan dipakai lagi. Warga yang masih punya pohon kelapa juga ditebang untuk buat tiang rumah," katanya.
(jon/)











































