Setelah Dibajak, Kapal Berisi Timah Ditenggelamkan
Jumat, 14 Jul 2006 20:19 WIB
Palembang - Perompakan kapal barang di perairan laut lepas antara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau (Kepri) kembali terjadi. Kali ini menimpa kapal MV Kimstrans Megalift yang membawa 41 kontainer balok timah milik PT Koba Tin dengan tujuan Singapura. Kapal ini dibajak kawanan perompak, lalu kapal tersebut ditenggelamkan di laut lepas. Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Bangka Belitung Letkol Laut (P) M. Zainudin yang dihubungi pers, Jumat (14/7/2006) menyatakan, lokasi penenggelaman kapal MV Kimstrans Megalift sudah ditemukan. "Tapi, para perompak berhasil kabur dan kapal dibajak antara pulau Bangka dan Pulau Dabo Singkep setelah kapal berlayar sejauh 120 mil dari Pelabuhan Pangkalbalam," kata dia. Menurut Zainudin, untuk memburu kawanan perompak dan mengamankan lokasi kapal yang tenggelam, TNI AL telah mengerahkan personelnya. "TNI AL mengerahkan pesawat Nomad, KAL 35 Manau dan KRI Todak 803 yang sekarang masih berada di lokasi kapal tenggelam," ujar dia. Dari pemeriksaan terhadap 10 awak kapal MV Kimstrans Megalift, menurut Zainudin, terungkap bahwa kapal dihadang perompak bertopeng dan bersenjata api Selasa malam lalu pada posisi 00.51.00 Lintang Selatan (LS) - 105.43.00 Bujur Timur (LT) antara Pulau Bangka dan Pulau Dabo Singkep, Kepri. Pangkalan TNI AL Babel memeriksa 10 awak kapal MV Kimstrans Megalift untuk memeriksa apakah ada unsur keterlibatan para awak kapal tersebut atau tidak. Tetapi sampai saat ini indikasi keterlibatan tersebut belum ditemukan. "Akibat perompakan ini diperkirakan kerugian perusahaan pelayaran, PT Koba Tin dan perusahaan lainnya sekitar Rp 65 miliar," tambah Zainudin. Pembajakan kapal pembawa timah dari Babel dengan tujuan Singapura oleh kawanan perampok dengan modus penenggalaman kapal di laut lepas bukan peristiwa pertama. Sebelumnya, pada 30 September 2005 kapal MV Prima Indah yang membawa 660 ton balok timah milik PT Koba Tin dengan tujuan Singapura juga dihadang kawanan perompak di sekitar perairan Tanjung Tuing. Setelah awaknya dibuang di sebuah pulau, lalu kapal tersebut ditenggelamkan. Dengan bercermin kasus perompakan kapal MV Prima Indah milik PT Pelni yang juga ditenggelamkan satu tahun lalu, M. Zainudin memperkirakan ada dua modus dalam perompakan kapal MV Kimstrans Megalift. "Modus pertama kapal sengaja ditenggelamkan beberapa waktu, kemudian jika telah aman. perompak itu menjarah isinya. Modus kedua, ada unsur permainan antara owner dengan pihak asuransi. Sampai sekarang TNI AL masih terus mengusutnya," kata dia. Peristiwa perompakan tersebut terjadi menurut awak kapal MV Kimstrans Megalift, pada Selasa (11/7/2006) kapal bertolak dari Pelabuhan Pangkalbalam menuju Singapura. Kapal ini mengangkut barang balok timah milik PT Koba Tin, lada, silicon dan sejumlah barang berharga lainnya.Lepas dari pelabuhan, kapal berlayar tanpa hambatan. Setelah menempuh jarak sejauh 120 mil, tiba-tiba sejumlah kawanan perompak bertopeng naik ke atas kapal dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam mengancam nakhoda dan sembilan orang awak kapal. Di bawah todongan senjata api, para awak kapal lalu disekap dan diikat serta matanya mereka ditutup. Setelah dikuasai para perompak, awak kapal diperintahkan turun dan pindah ke sebuah perahu kecil yang sudah disiapkan oleh perompak. Lalu mereka dibuang ke sebuah pulau yang kemudian diketahui bernama Pulau Tujuh, sekitar 40 mil dari tempat kejadian perkara (TKP).
(asy/)











































