ITB Ciptakan Beton Berbahan Baku Lumpur Lapindo
Jumat, 14 Jul 2006 20:02 WIB
Surabaya -
Setelah batu bata dan batako, ternyata lumpur Lapindo juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku beton untuk pembangunan gedung maupun jembatan. Kekuatannya pun konon tidak perlu diragukan lagi.Terobosan baru ini telah diuji coba Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB Bandung. Penemuan itu diungkap Budi Lationo, Staf Ahli Struktur dan Material LAPI ITB saat workshop Pengelolaan Lumpur Panas Lapindo Brantas di ruang Kalimantan Hotel Shangri-la, Jl. Mayjen Sungkono, Surabaya, Jumat (14/7/2006).Menurut dia, dari percobaan yang telah dilakukan, beton yang berbahan baku dari campuran lumpur Lapindo mempunyai kekuatan yang sama dengan beton lainnya. Komposisinya, lanjut Budi, untuk menghasilkan 1 meter kubik beton dibutuhkan 1,7 ton lumpur Lapindo, 400-500 Kg semen, serta lima liter polimer."Kekuatannya sama dengan beton non-bahan baku lumpur. Ini sudah dilakukan berbagai diuji coba untuk mengukur kekuatannya," kata dia. Karena kekuatannya tidak jauh beda, kata Budi, 'beton lumpur' ini juga layak untuk pembangunan infrastruktur, misalnya gedung dan jembatan serta perumahan warga yang menjadi korban luapan lumpur. "Kompresif Streng maupun elastisitasnya juga telah diuji," imbuhnya.Dengan hasil uji coba yang dilakukan di Bandung itu, Budi sangat berharap nantinya formula temuannya itu bisa berguna untuk warga Porong maupun sarana prasarana yang rusak akibat luapan lumpur. "Sama sekali tidak berbahaya bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Justru ada kandungan anti oxidan yang tidak menyebabkan kanker," kata Budi yang juga salah satu staf ahli Freeport ini.Selain untuk bahan baku beton, menurut Budi, lumpur Lapindo bisa dikembangkan untuk bahan baku pembersih kaca maupun pewarna kaca. "Tidak perlu khawatir. B3 adalah Berguna Bagi Bangsa," kata Budi berseloroh.Nantinya, jika hasil uji cobanya ini bisa dimanfaatkan, maka ia mengusulkan agar segera dibangun sarana pendukung untuk produksi. "Saya inginnya di Porong. Luas lahannya membutuhkan sekitar 5 hektar saja. Peralatannya juga sederhana saja kok," harapnya.
(asy/)










































