Kalla: Pesawat Kepresidenan Tidak Perlu Baru
Jumat, 14 Jul 2006 18:51 WIB
Jakarta - Kandas sudah rencana pembelian Boeing 737-500 baru untuk pesawat Kepresidenan. Wapres Jusuf Kalla tidak mengharuskan pesawat gres dari pabrik. Yang penting lebih layak terbang dibanding yang ada selama ini."Yang saya maksud adalah pesawat yang lebih baru dari Fokker 28 yang biasa kita naiki. Bukan dari pabrik yang tiga tahun kemudian baru ada barangnya," kata Kalla dalam jumpa pers di Kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (14/7/2006).Pernyataannya ini mengomentari penolakan PT Garuda Indonesia, untuk membeli sebuah pesawat baru untuk dioperasikan sebagai pesawat kepresidenan. Kondisi keuangan yang carut marut ditambah beban beban utang, menjadi alasannya.Sejak insiden kerusakan kaca depan Fokker 28 yang hendak ditumpanginya dari Medan ke Jakarta, Kalla menggelontorkan ide penggantian pesawat yang telah berusia lebih dari 30 tahun itu dengan yang baru. Kebutuhan pengadaan pesawat baru dinilai mendesak, karena pesawat kepresidenan jenis Avro RJ-85 yangdioperasikan Pelita Air harus turun mesin. Perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Medan dan Banda Aceh kemarin pun sudah menyewa pesawat Garuda.Sesuai kajian Direktorat Sertifikasi dan Kelayakan Udara Departemen Perhubungan, maka jenis pesawat yang spesifikasi teknisnya paling sesuai dengan kebutuhan untuk pengadaan pesawat Kepresidenan adalah Boeing 737-500. Namun pernyataan Kalal tersebut otomatis membuyarkan rencana tersebut. Artinya moda angkutan udara yang bisa dioptimalkan penggunaanya untuk perjalanan RI1-RI2 di dalam negeri adalah Boeing 737-200 dan Heli Super Puma milik TNI AU. Sayonara pesawat baru!
(asy/)











































