Warga Yogya Diminta Tenang Sikapi Isu Gempa 15 Juli
Jumat, 14 Jul 2006 18:21 WIB
Yogyakarta - Air mata akibat gempa 27 Mei 2006 masih belum kering. Tapi, warga Yogya dan sekitarnya kembali diresahkan oleh selebaran jahat yang memuat isu gempa besar akan terjadi 15 Juli 2006. Warga diminta tetap tenang menghadapi isu ini. Permintaan ini disampaikan Kapolres Bantul AKBP Dedy Munazat kepada wartawan, Jumat (14/7/2006). Kapolres meminta warga tetap tenang dan tidak terpancing dengan isu yang mneyesatkan itu. Dia meminta warga untuk lebih mempercayai keterangan pakar dan kantor BMG Yogyakarta berkaitan masalah ini. Kapolres juga telah menerjunkan aparat di Polsek-Polsek untuk menenangkan warga dan mengusut selebaran gelap ini. "Jangan percaya klenik atau mistik tapi percayailah pada ahlinya. Tidak ada yang tahu kapan gempa itu akan terjadi secara pasti," pinta Kapolres. Selebaran gelap ini masih terus menyebar hingga sekarang. Warga jelas resah. Keresahan warga semakin menjadi-jadi setelah munculnya awan memanjang puluhan kilometer pada Rabu (12/7/2006) lalu. Padahal, awan tersebut sebenarnya adalah awan cirrus, yang tidak ada kaitannya dengan tanda-tanda gempa. "Sejak dua hari ini, kami merasa khawatir terus menerus karena ada kabar akan ada gempa yang besar. Banyak warga yang memilih tidur di luar rumah lagi, meski suhu sangat dingin," kata Juwari (50) warga Desa Kebonagung, Kecamatan Imogiri, Bantul, kepada detikcom, Jumat (14/7/2006).Sebelum munculnya awan yang memanjang dari arah tenggara hingga barat daya, kata Juwari, warga sudah resah dengan beredarnya kabar dari mulut ke mulut mengenai adanya gempa yang lebih besar. Meski aparat Muspika Imogiri bersama aparat desa sudah memberikan penjelasan, warga belum bisa mempercayai sepenuhnya."Mereka masih percaya akan peristiwa Rabu kemarin sebagai pertanda akan adanya gempa besar," kata dia. Meski dirinya tidak terlalu mempercayai hal-hal yang bersifat mistik, menurut dia, sebagian tetangganya mempercayai setelah munculnya awan panjang warna putih itu kemudian muncul sesuatu benda seperti meteor warna hijau yang jatuh dari arah selatan ke utara. Ada warga yang menganggap hal itu sebagai Teluh Brojo atau meteor jatuh sebagai pertanda akan ada bencana atau kesialan. "Kami sendiri sekeluarga tidak mempercayai hal itu dan lebih mempercayai keterangan yang ilmiah dari BMG," kata Juwari yang sehari-harinya sebagai guru di SMP swasta di Bantul itu.Dia mengaku pasca gempa sudah banyak isu dan kabar bohong yang terus didengar. Isu itu antara lain wilayah Imogiri dan Jetis yang terletak tidak jauh dari Sungai Opak yang akan tenggelam karena masih banyak patahan aktif di tempat itu. Termasuk suara gemuruh seperti kendang ditabuh yang terdengar di pertemuan Kali Opak dan Kali Oya di Pundong yang dikabarkan akan ada gempa besar lagi. "Sekarang soal Teluh Brojo dan ada gempa besar tanggal 15 Juli besok ini sangat meresahkan. Bahkan ada selebarannya lagi. Ini kan membuat warga resah dan tidak tenang," katanya.Selebaran yang sama juga beredar di daerah Klaten. Saat ini, polisi di Klaten juga tengah menyelidiki siapa penyebar selebaran yang meresahkan warga ini.
(asy/)











































