Pemimpin

ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Pemimpin

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 21 Okt 2022 08:01 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

"Kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin keluarganya, dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan ( karyawan ) bertanggung jawab atas harta majikannya ( perusahaan ). Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya." ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Pemimpin menurut Nabi Muhammad Saw. Adalah sarat dengan tanggung jawab. Jadi seorang pemimpin bukan untuk gagah-gagahan, justru mempunyai tugas untuk mencapai cita-cita bersama dengan yang dipimpin. Mari kita simak kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Setiap malam keliling desa dengan maksud mencari masukan tentang apa saja yang mesti dilakukan untuk mensejahterakan rakyatnya. Suatu hari dalam tugasnya, terdengar tangis balita pada sebuah rumah tua yang sudah reot. Umar mendekat dan memasuki rumah itu. Dilihatnya seorang Ibu sedang menanak sesuatu, sementara si balita terus menangis.
Terjadi pembicaraan antara tuan rumah dan tamunya.
" Mengapa ia menangis?" tanya tamunya ( Umar ) pada sang Ibu.
" Ia kelaparan." Jawab Ibu.
Umar bertanya kembali, " Lau apa yang Ibu masak itu ?"
Ibu menyahut," Kami memasak batu."
Umar terdiam, sang Ibu tidak tahu kalau di hadapannya adalah seorang pemimpin negerinya, justru dengan santainya mengkritik kepemimpinannya.
" Pemimpin yang tidak tahu rakyatnya kelaparan." Kata sang Ibu dengan sorot mata menahan marah.

Umar terkejut dan langsung pamit. Dalam perjalanan ia tak mampu membendung air mata, tidak tega rakyatnya kelaparan. Ia sangat sedih sekali karena hal itu menjadi tanggung jawabnya. Umar langsung menuju tempat penyimpanan gandum, diambilnya satu karung dan dipikulnya menuju rumah sang Ibu. Seorang stafnya menyaksikan pimpinannya bersusah payah, ia menawarkan jasanya untuk memanggul gandum tersebut. Tapi ditolaknya dan berkata " Apakah kau sanggup memikul dosa-dosaku?" sambil terus berjalan menuju tempat tujuannya.

Sepenggal kisah ini bisa kita cermati maknanya seperti :
1. Mencari informasi dan masukan pada sumber yang tepat. Dulu dan sekarang pasti berbeda cara pendekatannya, namun substansinya sama yaitu memperoleh masukan dari sumbernya. Sekarang kebanyakan dalam mencari informasi dilakukan secara formal, sehingga bentuknya menjadi acara " yang ditata " sebelumnya. Amirul Mukminin menerapkan Ukhuwah Islamiah dengan unsur menolong dan melepaskan seseorang dari kelaparan, tindakan ini merupakan perintah-Nya. Seperti firman Allah Swt. pada surah al-Maidah ayat 48 yang berbunyi, " "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan". Pemberian yang sudah diterima Umar bin Khatab adalah jabatan sebagai Kepala Negara dan menaatinya untuk digunakan dalam perbuatan kebajikan.

2. Sabar tidak mengikuti perasaan saat dikritik dengan sorot mata tajam oleh sang Ibu. Disini Amirul Mukminin sama sekali tidak melihat dirinya lebih tinggi dari sang ibu, justru ini menjalankan amanahnya. Sabar menjadi modal utama dalam menjalankan amanah. Dalam surah al-Baqarah ayat 155, Allah Swt. berfirman, " Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." Ujian adalah sesuatu yang akan dialami oleh para pemimpin, sikap agar lulus adalah dengan " sabar. "

3. Memberikan solusi, Umar bin Khatab setelah menerima kritik kalau pemimpin yang tidak tahu rakyatnya kelaparan. Maka Ia pamit dan langsung menuju tempat penyimpanan gandum dan mengambil satu karung untuk diberikan sang Ibu. Saat itu ada stafnya yang tawarkan jasa untuk membawakan gandum itu, ditolaknya karena ini menjadi kewajibannya. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw. di depan tulisan ini.

Sebagai pemimpin hendaknya melekat sikap rendah hati ( point 1 ), sikap ini menjadi ciri-ciri kepemimpinan dalam Islam. Juga dalam point 2, diperlukan sikap sabar sebagai ujian seorang pemimpin. Sedangkan yang terakhir adalah sikap tanggung jawab yang melekat dan tidak bisa digantikan. Itulah tugas berat seorang pemimpin, dicaci rakyatnya padahal sudah optimal menjalankan tugasnya. Umar bin khattab yang dikenal cerdas, tegas dan berwibawa itupun harus syahid di tangan seorang pengkhianat.

Pemimpin itu menjadi pantulan kehidupan dari masyarakatnya. Oleh karenanya mereka ( pemimpin ) muslim hendaknya berlaku seperti yang dicontohkan Rasul-Nya, dan para sahabatnya, mereka yang berhenti makan sebelum kenyang. Rumah dan perabotannya sangat sederhana. Begitu pula pakaiannya, bahkan Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz merasa cukup dengan pakaian yang sangat sederhana. Tahukan bahwa dibalik kesederhanaan itu, terpancar sinar surgawi yang menyejukkan. Mereka betul-betul menghayati hidupnya, jujur kata dan hati, adil dan takut pada Sang Pencipta.

Pemimpin yang Islami mempunyai keunggulan di beberapa faktor :
1. Niat yang baik dan jujur, akan memurnikan pekerjaan dan menjadikan perbuatan dan perkataan dilakukan untuk Allah Swt. semata.
2. Memadukan pekerjaan duniawi dengan tujuan ukhrawi.
3. Berkomitmen dengan nilai-nilai Islam. Memperhatikan kaidah halal dan haram.
4. Meneladani kepemimpinan Muhammad Saw. dan para sahabat yang mulia serta orang-orang yang mengikuti jalannya.

Semoga Allah Swt berkehendak menurunkan seorang pemimpin yang mempunyai ciri-ciri tersebut di atas dan menjadikan negeri yang makmur dan damai.

Lihat juga Video: Doa SBY untuk Jokowi di G20: Ajak Pemimpin Dunia Buat Bumi Lebih Aman

[Gambas:Video 20detik]




(erd/erd)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT