Jawa Timur Krisis Air

Jawa Timur Krisis Air

- detikNews
Jumat, 14 Jul 2006 13:06 WIB
Surabaya - Memasuki musim kemarau, sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami krisis air dan ribuan hektar area persawahan terancam gagal panen akibat mengeringnya lahan. Daerah yang kesulitan air antara lain Nganjuk, Lamongan, Bangkalan, Mojokerto dan Bojonegoro.Di Kabupaten Nganjuk sedikitnya 7 kecamatan kesulitan mendapatkan air bersih yakni Kecamatan Loceret, Pace, Wilangan, Ngluyu, Lengkong dan Kecamatan Jatikalen. Kalau pun ada, warga harus antre mendapatkan air hingga berjam-jam. Hingga saat ini warga setempat menunggu dropping air bersih dari pemerintah daerah.Kekeringan terparah terjadi di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret. Waduk yang berfungsi sebagai penampung air untuk kebutuhan warga, saat ini kering dan berubah menjadi hamparan tanah gersang. Padahal selama ini kebutuhan air warga bergantung pada sumber air tersebut.Sulitnya mendapatkan air membuat warga harus rela mengantrd hingga berjam-jam lamanya untuk mendapatkan air dari satu-satunya sumber air di desa setempat yang disalurkan ke tempat penampungan. Persediaan itu hanya untuk air minum dan masak sedangkan untuk mandi warga terpakasa menunggu sisa air yang ada. Kesulitan air bersih juga menimpa beberapa daerah di Kabupaten Bangkalan, Madura. Dengan dana swadaya yang dikumpulkan dari berbagai kalangan, kelompok lembaga swadaya masyarakat setempat melakukan droping air bersih ke 162 desa di daerah yang kesulitan air di antaranya Kecamatan Geger, Galis, Blega dan Sepulu.Droping air bersih di Kecamatan Geger ini disambut antusias masyarakat yang kesulitan air bersih. Mereka rela antre dengan membawa jerigen menunggu kedatangan tangki berisi air tiba. Sementara sumur warga di daerah yang kesulitan air di Geger hampir mengering karena sifatnya sumur tadah hujan.Surabaya Juga KenaKrisis air juga mengancam Sidoarjo dan Surabaya. Volume air Sungai Brantas dalam sebulan ini mulai susut. Dampaknya sembilan pintu Dam Lengkong Mojokerto ditutup oleh Jasa Tirta awal Juni lalu.Penyebabnya pada musim kemarau ini air Sungai Brantas susut dari ketinggian 17.90 meter menjadi 17.50 meter dari dasar sungai sehingga petugas subdivisi Jasa Tirta Mojokerto menutup 9 pintu air.Kebutuhan air untuk warga kota Surabaya dan industri yang ada disekitar sungai sebanyak 20 meter kubik per detiknya. Dan kebutuhan air untuk Kabupaten Sidoarjo yang digunakan untuk air bersih dan pengairan sawah sebanyak 21 meter kubik per detiknya.Kasubdiv Jasa Tirta Mojokerto Setyowibowo mengatakan, setiap menghadapi musim kemarau pihaknya selalu mengadakan rapat dengan intansi terkait untuk menentukan besar kecilnya permintaan air dari Surabaya maupun Sidoardjo antara lain instansi PDAM, PLN, dan Dinas Pengairan. Sebab kebutuhan itu harus disesuaikan peruntukannya sehingga persediaan air di Sungai Brantas bisa mencukupi selama musim kemarau.Sewa DieselSementara dampak kekeringan memaksa para petani di sekitar Waduk Gondang Lamongan mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa diesel dan membeli air. Hal ini dilakukan karena air sungai di sekitar sawah sudah mengering.Selama ini pengairan sawah mereka mendapat mendapat pasokan dari Waduk Gondang. Sayangnya saat ini air waduk ini tidak bisa langsung mengalir ke areal persawahan. Air waduk terlebih dahulu di tampung di sungai-sungai untuk mengairi areal persawahan. Petani harus memompa dengan diesel yang jaraknya mencapai puluhan hingga ratusan meter supaya air bisa mengalir ke sawahnya. Otomatis upaya ini membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk beli air Rp 5 ribu per jam. Biaya ini belum termasuk ongkos sewa diesel yang besarnya Rp 10 ribu rupiah per jam. Padahal untuk lahan satu hektar petani membutuhkan aliran air selama 20 jam."Jika tidak menyewa diesel nasib sawah kita bagaimana? Kita takut tanaman padi mati atau puso dan malah menimbulkan kerugian yang besar," kata Hadi salah satu petani Lamongan.Di BojonegoroSedangkan 10 dari 27 kecamatan di Bojonegoro mulai mengalami kesulitan air bersih. Kecamatan tersebut meliputi Ngraho, Temayang, Kedungadem, Ngambon, Sumberrejo, Sukosewu, Bubulan, Sugihwaras, Gondang, dan Sekar.Di antara kecamatan tersebut ada 10 desa yang saat ini sudah mendapatkan penanganan serius, yakni Desa Pandan Toyo, Kedungsari dan Bakulan (Kecamatan Temayang), Desa Ngoro Gunung (Bubulan), Sedangrejo dan Ngumpak Dalem (Dander) serta Desa/Kecamatan Ngraho.Namun dua desa kondisinya sudah memprihatinkan karena hanya bisa berharap sumur tadah hujan, yakni di Desa Bakulan dan Ngoro Gunung.Menurut Sekretaris Desa Bakulan, Kecamatan Temayang, Pardi, desa yang memiliki 2.077 jiwa ini sudah mengajukan pengiriman air bersih dua tanki per harinya atau sekitar 8.000 liter air. Sementara menurut Kasub Bidang Kesos Maskur, dua desa yang belum mendapat penanganan merupakan daerah pegunungan.Dari data yang didapatkan di Badan Keluarga Berencana (KB) Kesejahteran Sosial (Kesos) Pemkab Bojonegoro, bahwa jumlah kekurangan air bersih tahun 2005 sebanyak 53 desa dari 413 desa yang tersebar di Kabupaten Bojonegoro. Dan jumlah debit air yang dikeluarkan mencapai 1,6 juta liter air atau sebanyak 400 tanki yang berukuran 4.000 liter.Pemkab Bojonegoro sendiri melalui Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) sudah menyiapkan empat mobil tanki untuk melakukan droping air bersih ke beberpa desa tersebut. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads