Bukit Ambruk, Warga Tahlilan dan Antar Sesajian
Jumat, 14 Jul 2006 01:46 WIB
Ambon - Munculnya danau ajaib, Jumat pekan lalu, sebenarnya tidak diketahui samasekali warga dusun Mamua. Keanehan ini diketahui warga berawal dari keringnya air sungai Mamua secara tiba-tiba di siang hari bolong. Padahal saat itu, hujan deras mengguyur. Warga sempat panik dan ketakutan. Pasalnya, sungai Mamua, adalah satu-satunya tempat mandi dan mencuci bagi warga setempat maupun warga dusun tetangga lainnya. "Kami bingung, waktu air kering, warga panik dan takut. Masalahnya sungai itu satu-satunya tempat mandi dan mencuci kami," ujar Ny. Ania (49), warga dusun Mamua, Kamis (13/7/2006), saat memandikan anaknya di muara sungai Mamua.Bagi Ny Ania, munculnya danau tersebut sempat disangka warga adalah bahala yangditimpa Tuhan kepda warga dusun Mamua. "Warga disini sudah berpikir, ini bahala yang Tuhan berikan kepada kami semua," katanya. Keesokan harinya, Sabtu (8/7/2006), pagi, perwakilan warga kemudian mencoba mencari sumber masalah yang menimpa dusun mereka. Pencarian pun dilakukan dengan menyusuri hutan dan bukit di bekalang dusun. Akhirnya warga dikagetkan dengan tumpukan tanah setinggi 30 meter dan tebal 20 meter lebih. Setelah dinaiki, warga dibuat terperangah dengan danau. Serta merta, perwakilan warga pun panik dan berlari kembali ke kampung dan memberitahukannya kepada seluruh warga dusun. Seketika itu, warga dusun yang terdiri dari 240 kepala mengungsi ke desa-desa tetangga, yakni Desa Hila dan Desa Wakal. "Kami terpaksa mengungsi. Karena takut kejadian tersebut," kata Hamid Tomia, Kepala Dusun Mamua, saat ditemui detikcom di kediamannya, Kamis (13/7/2006).Dituturkan Hamid, ambruknya bukit-bukit dan amblas ke dalam tanah kemudian berubah menjadi danau seluas 1 kilometer, memunculkan ketakutan sangat warga dusun. "Kami sangat takut. Apalagi tanah penahan air danau itu hanya setebal 20 meter. Jika jebol, seluruh pemukiman warga bakal terseret ke laut," ujarnya.Anehnya, kata Hamid,meski bukit-bukit itu ambruk, namun perkebunan warga, seperti cengkih, pala dan coklat tidak roboh atau tercabut dari akarnya. "Jadi perkebunan warga tidak rusak, tapi, tanah-tanah yang longsor membawa tanaman-tanaman warga, seperti Cengkih, Coklat dan Pala, namun tetap tegak berdiri," kata Hamid.Awalnya, jelas Hamid, air danau hanya setinggi 15 meter, pada hari pertama. Namun hari kedua, air mulai naik setinggi 20 meter lebih. Kedalaman air hingga kini masih belum berubah.Pantauan detikcom, untuk mencapai danau ajaib ini, harus menempuh jarak sekitar 1 jam perjalanan dan menempuh jalan sejauh 2 kilometer melewati perbukitan. Nampak, sebatang pohon durian tetap berdiri di tengah-tengah danau selebar 100 meter lebih itu dan menampakkan ujung dedaunannya. Sementara beberapa bukit kecil ikut ambruk dan membentuk danau-danau kecil seluas 20-30 meter. Air danau terasa sangat dingin. Bahkan sedingin es dan berwarna biru bagai laut. Saat ini, air tidak mengalir ke arah muara sungai Mamua, tapi sebaliknya mengalir ke hulu. Menurut Hamid, dusun Mamua, sempat dilanda banjir tahun 1991. Banjir itu menghanyutkan 20-an rumah warga. Lima tahun kemudian, 1996, air sungai Mamua meluap hingga mencapai Masjid yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir sungai. Namun ketakutan warga, saat ini mulai agak reda. Air danau secara perlahan mulai mengalir menuju sungai Mamua. Kendati pergerakan air masih sangat kecil tahlilan dan sesajian dilakukan oleh warga Dusun Mamua. Lokasi tempat munculnya danau ajaib ini pun kemudian dijadikan tempat keramat.Warga setempat mengetahui, jika lokasi danau itu merupakan perkampungan kerajaanHitu yang disebut warga setempat "Masappa". "Menurut cerita, lokasi danau itu merupakan salah satu perkampungan atau kerajaan Hitu. Dimana tempat tinggal raja-raja atau datuk-datuk," kata Hamid.Saat kejadian itu, warga kemudian melakukan tahlilan, meminta doa kepada Allah SWT, agar dijauhi dari marabahaya. Selain itu, warga juga mengantar sesajian atau persembahan berupa makanan dan minuman dan telur rebus kepada paradatuk-datuk itu. "Ini semacam membuang sial," tandas Hamid.
(ahm/)











































