Tak Semua Penambal Ban Tebar Paku

Tak Semua Penambal Ban Tebar Paku

- detikNews
Kamis, 13 Jul 2006 16:11 WIB
Jakarta - Aksi menebar paku yang diduga dilakukan komplotan tukang tambal ban kian meresahkan. Tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban. Namun sejumlah tukang tambal ban membantah mereka pelakunya.Ketika detikcom, Kamis (13/7/2006) mencoba menelusuri salah satu jalur rawan yang sering disebut yakni dari perempatan UKI Cawang hingga ke Pancoran atau Jl MT Haryono, hanya tampak tiga tukang tambal ban temporer yang biasa mangkal di pinggir jalan.Bermodalkan mesin kompresor dan peralatan tambal ban, mereka menjalankan usahanya. Trotoar dan di bawah pohon menjadi tempat favorit mereka.Tukang tambal ban pertama yang ditemui menolak ketika akan diwawancara. Dengan wajah masam dia memalingkan muka sambil membaca kembali korannya. "Mas, sudah saya bilang saya tidak mau diwawancara," ketusnya.Di tempat kedua yang didatangi, sikap yang sama diberikan oleh pemilik tempat tambal ban. Dengan logat khas asal Sumatera dan suara keras, pria berumur 30-an tahun itu mengusir detikcom sambil marah-marah.Di tempat berikutnya, sekitar 50 meter sebelum Menara Saidah, dengan percakapan basa-basi yang panjang lebar, akhirnya sang pemilik yang mengaku bernama John mau juga bercerita.Dari mulut pemuda berusia 25 tahun itu terungkap, aksi menebar paku yang dilakukan para tukang tambal ban memang salah satu cara untuk mencari keuntungan.Tanpa menebar paku, rata-rata penghasilan yang bisa didapat hanya Rp 20 ribu per hari. Namun dengan cara curang seperti itu, para tambal ban kaki lima itu bisa meraup untung antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.Dalam sehari John menerima 'pasien' sebanyak 5 sampai 10 pengendara motor. Dengan satu lubang dihargai Rp 5 ribu, paling banyak uang yang bisa dibawa pulang rata-rata sebesar Rp 50 ribu. Keuntungan lain bisa didapatkan John ketika ada pengendara yang mengganti ban dalam.Namun John membantah dirinya termasuk tukang tambal ban menebar paku. "Saya tidak pernah bikin itu. Memang di depan bengkel saya dulu ada banyak paku. Tapi saya tidak tahu," kilahnya.Bahkan pria asal Medan yang mengaku sudah 2,5 tahun menjadi tukang tambal ban di lokasi itu, mengaku pernah didatangi petugas polisi. "Pernah ada polisi yang kemari. Mereka cuma tanya-tanya saja," tutur John.Karena tidak cukup bukti, polisi tidak bisa menangkap dirinya. Meski begitu John mengaku merasa was-was juga.Menurutnya, tindakan menebar paku sangat merugikan para pengendara. Tapi tidak semua tukang tambal melakukan perbuatan tidak terpuji itu."Saya percaya kalau rejeki tidak ke mana," tegasnya. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads