KLB Vs KA Argo Anggrek
Kamis, 13 Jul 2006 14:16 WIB
Jakarta - Anda pelanggan KA Argo Anggrek? Bila ya, patutlah Anda berbangga. Karena kenyamanan Argo Anggrek lebih baik dibanding Kereta Luar Biasa (KLB) Penting yang digunakan Kepala Negara RI. Demikian yang dirasakan wartawan detikcom setelah menjajal KLB saat menyertai kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Pekalongan, Jawa Tengah, dalam rangka memperingati Hari Koperasi ke-59, Rabu (12/7/2006) kemarin. Rasa kurang nyaman KLB mulai muncul ketika KLB dikebut sepanjang perjalanan Cirebon-Pemalang. Ayunan dan olengan gerbong, cukup dirasakan penumpang yang duduk di gerbong eksekutif. Gejala demikian biasanya terasa pada KA kelas bisnis, dan bukan pada Argo Anggrek. Seharusnya KLB pun tidak. Bagaimana dengan ruang toilet KLB? Sempit, kuno, suram, tanpa AC. Bahkan pintunya perlu sedikit tendangan agar bisa membuka. Tapi tentu bebas aroma pesing, tersedia sabun, dan kertas tissue. Kran air serta jetwasher-nya tidak macet pula. Setelah berbincang dengan seorang teknisi KLB, kiranya segala kekurangan di atas dapat dimaklumi. Ternyata gerbong-gerbong KLB adalah modifikasi dari rangkaian KA Bima yang dibuat di Jerman Timur pada awal 1970-an. Modifikasi yang dilakukan pun sebatas mengecat ulang eksterior. Sementara di interior kabin penumpang, sistem kelistrikan, pendingin udara, jok dan keselamatan yang mengalami perombakan total. Sayangnya, blok boogie (bagian-bagian kaki-kaki gerbong terdiri dari roda, suspensi dan pegas peredam kejut) tidak diganti keseluruhan dengan versi lebih baru sebagaimana dikenakan pada Argo Anggrek. Penggantian hanya dilakukan pada komponen yang aus dimakan usia. Padahal, sebagaimana berlaku pada kendaraan bermotor lainnya, bagian kaki-kaki inilah lah yang bertugas meminimalkan gejala oleng dan ayunan sebagai akibat dari kecepatan tinggi. Lalu apa yang istimewa dari KLB? Banyak. Paling mencolok adalah interior pada tiga gerbong VVIP utamanya yang dinamai 'Bali', 'Toraja', dan 'Nusantara'. Ketiganya dihampari karpet tebal. Dindingnya berhias panel-panel ukiran kayu motif khas Toraja, Jawa dan Padang. Toraja dilengkapi dengan sofa panjang nan nyaman untuk rapat kecil, dan beberapa kursi lagi untuk para penumpang. Bali, merupakan gerbong makan dan ruang bersantai dengan televisi layar lebar. Nusantara, yang paling mewah. Fasilitas utama di Bali dan Toraja, ada di sini. Ditambah dengan kamar tidur, kamar mandi, ruang rapat besar, ruang tamu, dan meja bar. Karena status resminya bukan KA Kepresidenan, maka Anda pun bisa menikmati KLB. Keuntungan lain yang bisa didapat pertama tentu saja gengsi, kemudian berangkat tepat waktu tapi tiba di tujuan lebih awal. Terlebih lagi steril dari teriakan pedagang asongan, intimidasi pengamen, rayuan kuli angkut, dan gerayangan copet. Untuk semua kelebihan di atas, PT KA - pemilik KLB - memasang tarif sekali jalan sebesar Rp 14 juta untuk rute Jakarta-Surabaya dan Rp 7,5 juta untuk Jakarta-Yogya untuk tiga gerbong utama itu (Bali, Toraja, dan Nusantara') . Anda berminat menyewa KLB?
(asy/)











































