Independensi LSM dan Gerakan Mahasiswa Dipertanyakan
Kamis, 13 Jul 2006 13:14 WIB
Jakarta - Aliansi Rakyat Bergerak Adili Soeharto (ARBAS) meragukan independensi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan gerakan mahasiswa. Sebab banyak dana yang mengalir ke mereka. Demikian diungkapkan anggota ARBAS Adian Napitupulu dalam diskusi tentang skema aliran dana bantuan bagi pergerakan mahasiswa di Aula Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Jalan Salemba Raya, Jakarta, Kamis (13/7/2006).Menurut dia, aliran dana dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan Bappenas melalui Partnership Government Reform Indonesia (PGRI) yang kemudian dikucurkan ke berbagai organisasi gerakan mahasiswa telah membuktikan lemahnya pergerakan saat ini."Kucuran dana yang dialirkan melalui PGRI yang di dalamnya ada penentu kebijakan dan arah organisasi adalah SBY dan Menteri Keuangan ini berpotensi merusak independensi gerakan mahasiswa. Gerakan menjadi terkontrol dan terbungkam," jelas Adian.Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sekjen GMNI Rendra Valentino. Dia mengatakan, GMNI, ARBAS, GMKI dan organisasi lainnya harus berusaha independen. "Selama ini kita memang disuplai mereka. Tapi sekarang kita harus independen. Tanpa NGO kita harus bisa sendiri-sendiri," ujar dia.Berdasarkan data yang diperoleh ARBAS, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) memperoleh kucuran dana Rp 1,7 miliar, LPEM FE UI mendapatkan Rp 2 miliar, FSP BUMN Rp 1 miliar, Demos Rp 782 juta, Kontras Rp 851 juta, ICW Rp 2,5 miliar, dan JAMPPI mendapatkan Rp 3 miliar.Dengan kuncuran dana itu dikhawatirkan gerakan mahasiswa yang menggantungkan kebutuhan finansialnya pada LSM-LSM tersebut akan mengalami ketergantungan yang berpotensi memoderasi dan merusak indepedensi gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat lainnya.
(san/)











































