TGIPF Ceritakan Momen Dramatis Penyelamatan Korban Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

TGIPF Ceritakan Momen Dramatis Penyelamatan Korban Kanjuruhan

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 14 Okt 2022 15:20 WIB
Ketua Umum PSSI M Iriawan (Iwan Bule) memenuhi panggilan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan di gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/10/2022). Iwan Bule akan dimintai klarifikasi terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan.
Mahfud Md (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan Mahfud Md menceritakan detik-detik momen dramatis penyelamatan korban. Momen itu dilihat berdasarkan hasil rekaman 32 CCTV yang diperoleh dari aparat.

Mahfud, yang juga Menko Polhukam, menyebut Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 orang bukan sekadar tentang semprotan gas air mata, tetapi ada juga yang tidak bisa keluar stadion hingga terinjak-injak dan tidak bisa bernapas. Para korban juga terlihat saling menolong satu sama lain.

"Jadi itu lebih mengerikan dari sekadar semprot mati, semprot mati gitu, ada yang saling gandengan untuk bisa keluar bersama, satu bisa keluar, yang satu tertinggal, yang di luar balik lagi untuk menolong temannya terinjak-injak mati. Ada juga yang memberi bantuan pernapasan itu karena satunya sudah tidak bisa bernapas, kena semprot juga mati, itu ada di situ, lebih mengerikan daripada yang beredar karena ini CCTV," kata Mahfud setelah saat jumpa pers di Istana, Jakarta, Jumat (14/10/2022).

Mahfud memastikan korban Tragedi Kanjuruhan meninggal karena berdesakan setelah terkena semprotan gas air mata. Mahfud menuturkan, racun pada gas air mata yang disemprotkan saat itu kini tengah diperiksa oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Kemudian yang mati dan cacat dan yang sekarang kritis, itu dipastikan terjadi karena desak-desakan setelah ada gas air mata yang disemprotkan, itu penyebabnya. Adapun peringkat keterbahayaan atau racun pada gas itu sekarang sedang diperiksa oleh BRIN Badan Riset dan Inovasi Nasional," jelasnya.

Mahfud menyampaikan hasil pemeriksaan oleh BRIN tidak bisa dijadikan sebagai kesimpulan penyebab jatuhnya korban. Mahfud mengatakan hasil temuan lainnya, yakni pihak-pihak terkait yang terlibat dalam penyelenggaraan Liga 1, berlindung pada aturan yang secara formal sah.

"Tetapi apa pun hasil pemeriksaan dari BRIN tidak bisa mengurangi kesimpulan bahwa kematian massal itu terutama disebabkan oleh gas air mata. Ternyata juga dari hasil pemeriksaan kami. Semua stakeholders saling menghindar dari tanggung jawab semu saling berlindung dari aturan-aturan, kontrak yang secara formal sah, oleh sebab itu kami sudah sampaikan kepada presiden dan semua rekomendasi untuk stake holder baik dari pemerintah PUPR, Menpora, Menkes sudah kami tulis," imbuhnya.

(dek/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT