Legacy

ADVERTISEMENT

Legacy

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 14 Okt 2022 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Abu Sulaim al-Hadzali meriwayatkan, bahwa sebelum akhir hayatnya, Umar bin Abdul Aziz berkhutbah pada umatnya sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kamu sia-sia dan tidak menjadikan amal dan urusanmu tanpa perhitungan. Sungguh, kamu mempunyai tempat kembali ( akhirat ), sebagai tempat untuk menghukum apa yang terjadi di antaramu. Maka, rugi dan rugilah orang yang keluar dari rahmat Allah, dan diharamkan masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Rugilah orang yang membeli sesuatu yang sedikit dengan sesuatu yang banyak, membeli sesuatu yang bakal lenyap dengan sesuatu yang abadi, membeli ketakutan dengan keamanan. Tahukah kamu bahwa peninggalanmu ini adalah harta rampasan pendahulumu, dan kelak sesudahmu akan digantikan oleh orang seperti itu lagi. Semuanya akan kembali kepada Maha Pewaris yang sebaik-baiknya.

Siang dan malam kamu mengantarkan orang yang kembali kepada Allah karena ajalnya telah tiba, dan kamu timbun mereka di dalam tanah dengan tidak berhamparan dan berbantal. Semua perantara telah tiada, semua sebab telah terlepas, semua kekasih telah memisahkan diri, tanah telah tenang dan hisab telah siap. Seseorang tergantung dengan amalnya, ia sangat membutuhkan apa yang telah dikerjakannya, dan tidak memerlukan apa yang ditinggalkannya. Karena itu, takutlah kepada Allah sebelum ajal menjemputmu.

Demi Allah, aku mengucapkan kata-kata ini sedangkan aku sendiri tidak mengetahui dosa seorangpun diantara kamu seperti yang kuketahui dari dosa-dosaku sendiri. Dan tidak ada satupun keperluan yang disampaikan oleh salah seorang diantara kamu kepadaku, kecuali aku akan berusaha memenuhinya sekuat-kuatku. Dan jika ada perbedaan yang mencolok antara aku dengan seseorang diantara kalian, maka aku ingin meratakannya.

Demi Allah Swt. kalau aku menghendaki kedudukan dan kehidupan selain itu daripada kehidupan yang serba mewah, niscaya lisanku mudah sekali mengemukakannya dan berputar kata. Tapi, telah ada dari Allah Swt. yaitu kitab yang berbicara dan sunah yang adil, yang menunjukkan orang untuk mentaati-Nya, dan melarang semua bentuk kemaksiatan. ( Umar lalu menangis, orang-orangpun ikut menangis. Itulah khutbah terakhir dari Umar bin Abdul Aziz, sebelum beliau yang dikenal bijak itu meninggalkan dunia yang fana ini dan menghadap al- Khaliq ).

Pada alinea pertama, Amirul mukminin mengingatkan kita tentang amal, tiadalah sia-sia mengerjakan amal karena pasti akan diperhitungkan oleh Yang Kuasa. Rugilah bagi seorang hamba yang keluar dari rahmat-Nya. Janganlah kau tukar sesuatu yang bakal abadi seperti shalat lima waktu ditukar dengan diskusi bisnis, politik maupun lainnya sampai menghabiskan waktu shalat tersebut. Janganlah kau tukar sesuatu yang kekal ( akhirat ) dengan sesuatu yang fana ( dunia ) meski dengan pesona dan gemerlapnya.

Selanjutnya Amirul Mukminin mengingatkan kita bahwa saatnya dan pasti akan kembali pada Sang Khalik. Maka janganlah sia-siakan waktu semasa hidup dan perbanyaklah amalan dengan mengingat, " Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." ( QS. al-Fatihah [1] : 5 ).


Semua perbuatan baik dan amalan kita berlandaskan hanya karena Allah Swt, tiada selain-Nya, dan sumber kekuatan untuk kita mohonkan pertolongan hanyalah pada-Mu. Bagi orang beriman semasa hidup di dunia merupakan ladang mencari bekal untuk yang kekal. Kemewahan dunia telah ditukar oleh Amirul Mukminin dengan kesederhanaan yang menjadi miskin, tiada kesombongan karena kedudukan, amanah yang menjadi pegangannya, sehingga seluruh waktunya digunakan untuk melayani masyarakat.

Keteladanannya telah membuka hati para pemimpin beriman untuk menjadi inspirasi dalam kehidupannya. Dia selalu berkata yang perlu dan tiada berputar lidah, pegangannya hanya pada kitab-Nya dan sunah. Menunjukkan pada warganya untuk mentaatinya dan melarang untuk berbuat maksiat. Dalam masa kepemimpinannya yang relatif singkat, namun memberikan manfaat yang besar sehingga susah ditemukan orang-orang yang miskin. Hal ini menunjukkan kesejahteraan telah diraih.

Banyak sekali teladan yang ada pada sosok Umar bin Abdul Aziz ini, yang menjadi prioritas adalah bagi pemimpin untuk menjalankannya. Ya Allah, kami mohon dan rindu akan sosok dia, berilah kami hidayah untuk menemukan maupun menyemai sosok pemimpin yang bijaksana dan adil, sehingga secara bersama akan kami jaga ajaran ini.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT