Kemarau di Jateng Lebih Panjang Dibanding Tahun Lalu
Rabu, 12 Jul 2006 16:12 WIB
Jakarta - Kekeringan di Jateng diperkirakan akan berlangsung lama. Sebab berdasar data BMG Stasiun Klimatologi Semarang, kemarau masih akan berlangsung hingga lima bulan ke depan. "Kemarau tahun ini lebih panjang dari pada tahun sebelumnya. Tahun lalu hanya enam bulan, tapi tahun ini mencapai delapan bulan, yakni dari bulan April hingga November," kata Kepala BMG Stasiun Klimatologi Semarang Widada Sulistya di kantornya, Jl Siliwangi, Rabu (12/7/2006). Widada menjelaskan, musim kemarau tahun ini lebih kering dari pada tahun lalu. Tahun lalu, masih ada hujan pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, meski intensitasnya hanya dua hingga tiga kali dalam sebulan. Namun untuk tahun ini, hal itu tidak terjadi. Lebih lanjut Widada menyatakan, hujan baru bisa terjadi jika sudah ada angin dari Asia, atau yang sering disebut angin barat. Angin tersebut adalah angin basah yang membawa air. "Saat ini, angin yang ada hanyalah angin dari Australia, atau yang sering disebut angin timur. Ini angin kering, sama sekali tidak membawa air," jelasnya. Selain itu, saat ini kelembaban udara di wilayah Jawa Tengah rata-rata tidak lebih dari 50 persen. Padahal, hujan baru bisa terjadi jika kelembaban udara di atas 70 persen. Karena itu, kekeringan diperkirakan masih akan berlangsung lama. Mengenai hujan buatan, Widada menyatakan, hal itu dimungkinkan dilakukan pada Oktober mendatang. Pada saat itu, bibit awan cumulomimbus sudah ada. Bibit awan itu terbentuk dari kenaikan suhu di Laut Selatan Jawa. Data BMG menunjukkan, daerah Jawa Tengah yang mengalami masa kemarau panjang di antaranya adalah Blora, Grobogan, Rembang, Jepara, Pati, Demak, Kudus, Cilacap, Wonogiri, Klaten, Sragen, Kebumen, Purworejo, Batang, Pekalongan, Tegal, dan Brebes. Wonosobo, Magelang, Salatiga dan Temanggung, juga mengalami masa kemarau tapi tidak terlalu panjang.
(nrl/)











































