Kisah Pembaca Korban Ranjau Paku
Rabu, 12 Jul 2006 13:17 WIB
Jakarta - Banyak pembaca detikcom yang menjadi korban ranjau paku. Ada yang sekali, ada yang berulang kali. Inilah pengalaman mereka dan tips yang layak ditiru:Yudha:Ini memang hal paling menyebalkan dan lebih kejam dari teroris. Kalau kebetulan yang terkena ranjau paku ada kepentingan mendadak yang sangat urgent kan bisa bahaya. Perlu ditambahkan lagi lokasi ranjau paku karena saya pernah kena di sana. Sekali kena tiga motor dengan paku yang mirip dipanasin terus ujungnya sedikit pipih Lokasi itu di sekitar Jalan Kramat Raya dari arah Senen mau ke Salemba, deket Polres Jakarta Pusat harap hati-hati. Dan di daerah Cempaka Putih dekat Careffour hati-hati juga, sepanjang jalan itu tukang tambal ban semua. Mohon pak polisi peka dengan masalah ini hukum berat orang yang melakukan biar ada efek jera . Igoen:Saya punya tip jika emang kita sudah kena paku khususnya pada ban sepeda motor dan akan menambal ban perhatikan baik-baik pada saat si tukang tambal bantsb membuka ban kita. Biasanya kalau kita lengah mereka suka membuka paksa ban dalam tanpa mengendurkan baut pentilnya sehingga ban kita yang tadinya cuma bocor dan bisa ditambal menjadi harus ganti ban dalam akibat pentilnya rusak/sobek.Tentunya mereka mematok harga yang tinggi yang mau nggak mau kita harus beli tuh ban karena nggak mungkin lagi dorong tuh motor untuk cari tukang tambal banlagi. Apesnya kalo kita pas megang duit , kalau nggak kan repot. Demikian pengalaman yang pernah saya alami di daerah Kalimalang arah ke Bekasi.Zulkifli:Dulu saya pernah kena paku ranjau dalam perjalanan dari jalan by pass DI Panjaitan ke arah Kampung Melayu (Casablanca). Pada saat itu saya lewat di pinggir jalan. Ban motor saya sampai kena empat lubang. Kenanya sebelum naik jembatan layang Kampung Melayu, memang di daerah tersebut ada tukang tambal ban. Sekali-kali coba perhatikan tambal ban sebelah kiri jalan kalau kita dari arah Cipinang menuju jembatan layang terminal Kampung Melayu. Dan jangan coba lewat di pinggir jalan, karena temanku ternyata pernah kena juga di daerah tsb. Kalau melewati jalan tersebut, coba posisikan kendaraan sedikit ke tengah jalan. Jangan pernah melintasi daerah pinggir jalan.Iwan:Di bawah Jembatan Semanggi kedua-duanya. Kalau dari Senayan ke Thamrin, biang keroknya tukang tambal ban di belokan Bendungan Hilir. Tukang-tukang ojek di daerah situ sudah hapal. Saya pernah bocor di situ langsung tukang-tukang ojek bilang ke saya, Mas jangan tambal di belokan Benhil, itu rampok! Nggak bakal bisa tambal, pasti ganti ban. Pelan-pelan saja kalau lewat di bawah Semanggi, liatin keadaan jalanYohanes Awang SetiawanMenanggapi berita ranjau paku, saya ingin membagi tips saja, dengan asumsi Anda bukan dirampok, cuma dipaksa nambal. Kalau Anda dirampok, tinggal paksasaja mobil jalan sampai di tempat yang dianggap aman seperti kantor polisi, ruko yang ada satpam, atau masuk mall sekalian, tentunya akan menarik perhatian penjaga mall : ). Jalanan di Indonesia rata-rata beraspal, sehingga velg masih akan bertahan kira-kira 2-3 km dengan kecepatan 40 km/jam dengan menghindari lubang.Di supermarket sudah tersedia 1 set alat tambal ban sendiri,bentuknya seperti karet seperti batang rokok sejumlah 5 batang dilengkapi dengan alat pembuat lubang dan alat memasukkan karet. Barang-barang yang harus tersedia di mobil Anda: Tang dengan ujung runcing atau tipis, pompa (kompresor mini, banyak di supermarket), bor tangan dengan mata bor seukuran alat karet penambal dan obeng minus.Caranya mudah sekali: Lepas ban yang bocor dan buang sisa angin yang masih ada di ban. Cabut paku dengan tang dan obeng. Kalau Anda kuat, masukkan alat pembuat lubang yang Anda dapat dari 1 alat penambal, kalau Anda tidak kuat pakai bor. Setelah Anda membuat lubang, ambil alat penambal yang memiliki lubang di tengahnya. Masukkan karet penambal di lubang itu dan masukkan alat penambalnya ke lubang di ban, kalau berat Anda bisa memutar-mutar alat itu agar karetnya tertancap sedalam mungkin. Kemudian tancapkan kompresor di lubang rokok dan pompa ban Anda. Ban Anda sudah bisa dipakai lagi.Kalau ingin mengejek tukang tambal ban, Anda berlatih dulu di rumah, lalu apabila terkena paku, Anda tambal sendiri di depan tukang tambal ban itu.... Riko:Hati-hati melintas di daerah Kuningan (Rasuna Said) arah Mampang. Apalagi sekarang ada pekerjaan monorel. Maka praktis motor-motor akan melaju di pinggir trotoar, di dekat Jasa Marga sampai rumah sakit MMC. Karena pas setelah MMC arah masuk ke Apartement Rasuna ada tukang tambal ban. Satu lagi di daerah Gatot subroto ke arah Blok M. Hati-hati melitas di jalur lambat yang menurun ke bawah. Ambil jalur tengah saja. Karena di pinggiran trotoar banyak paku yang ditebar.M. Effendi:Saya pernah jadi korban ranjau paku di jalur lambat Kuningan dekat lampu merah perempatan Gatot Subroto sekitar 2 bulan yang lalu . Beberapa saat sebelum ban kempes, saya menggilas sandal jepit yang kemungkinan dipakai untuk menegakkan ranjau tersebut. Ini terjadi pada hari Minggu menjelang magrib, saat lalu lintas tidak terlalu padat.Begitu mobil saya mendadak kempes dan langsung berhenti di pinggir, ada tiga orang mendatangi saya dari tiga arah yang berlawanan menawarkan 'bantuan' . Saya memegang dan mengayun-ayunnkan perkakas besi yang biasa digunakan untuk melepas sekrup ban dan mengatakan saya tidak perlu bantuan mereka. Entah mungkin karena beberapa pengendara memperhatikan kejadian tersebut, atau kawanan 'penolong' itu tidak berminat untuk main keras dengan saya, mereka pergi meninggalkan saya, dan saya mengganti ban serep tanpa ada gangguan apa pun. Urusan ranjau paku ini sebenarnya soal lama yang kalau mau,dapat diatasi dengan tuntas sebagaimana kita dapat mengatasi penjahat kapak merah. Yang diperlukan adalah kemauan polisi untuk bertidak keras dan konsisten sehingga membuat mereka berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut.Ace:Saya tinggal di sekitar Depok dekat Parung Bingung. Saat itu saya hendak pergi ke kerabat di Kalideres, jalur yang saya lewati adalah Meruyung- imo,Cinere, Permata Hijau, lurus saja lewat Jalan Panjang, tembusnya di Jalan Daan Mogot. Ini baru pertama kali saya lewati jalur itu. Waktu berangkat ke Kalideres sih nggak ada masalah, namun ketika pulang saya kena ranjau paku ini. Perkiraan saya terkena ranjau setelah Daan Mogot dan Permata Hijau. Padahal saat itu saya bawa istri dan 2 anak saya, beban full.Kebetulan saya pakai ban racing. Saya sudah merasa ban ada yag nggak beres ketika itu saya cukup kencang seperti ban selip. Trik saya kalau pakai ban racing nggak apa-apa tembus paku asal jangan ekstrim ketika rem atau pun gas agar tidak memberi tekanan berat pada ban apalagi rem sampai ban 'lock', dan jangan berhenti terlalu lama, pelan ngak apa-apa asal tetap jalan.Saya mulai berhati-hati terhadap ban dari Mal Permata Hijau, alhamdulillah saya dan keluarga masih bisa terus sampai tiba di rumah, ban masih belum kempes. Namun setelah sekitar 15-20 menit, baru ban itu kempes. Saya bawa ke tambal ban. Saya menemukan paku sekitar 1-1,25 inchi mash baru, mengkilap tidak berkarat, berarti ini memang ditebar di jalanan.3 minggu kemudian, saya dan istri beserta 2 anak melakukan perjalanan lagi ke Kalideres, jalannya sama,bahkan kejadiannya sama, berangkat ok-ok saja. Pulangnya di sekitar tempat yang sama antara lepas Daan Mogot danPermata Hijau terkena paku lagi. Ini 1,5 inchi, tapi saya tetap tenang. Seperti biasa pakai trik di atas...saya sampai di rumah (Depok) dengan selamat.Kebetulan selama beli motor saya nggak pernah kena paku, sampai kenalan tukang tambal ban ngomong..."Baru lewat Permata Hijau lagi yah." Ternyata hal ini umum terjadi, tukang tambal sudah pada hafal.Kesimpulan kedua, ranjau paku itu disebar dengan sengaja dan dalam jumlah besar. Saya baru 2 kali lewat jalan itu dan selalu kena saat arah dari Kalideres-Permata Hijau. Berarti itu sudah real 100%, tidak probabilitas lagi.Yunita:Waktu itu, saya tengah meluncur dari Jalan Saharjo menuju perempatan Pancoran. Tiba-tiba, tepat di depan McD Tebet, saya merasa ada yang salah dengan ban belakang motor saya. Saya segera berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ban belakang sudah kempes pes, tak ada udara yang tersisa.Saya menemukan sebuah paku berukuran kecil menancap di ban belakang. Anehnya, ada satu motor lagi yang juga mengalami kebocoran. Saya segera berpikir, pasti ada orang yang sengaja membuang paku di jalanan.Agar ban tersebut masih bisa ditambal dan tidak rusak, saya sengaja tidak menaiki motor dan menuntunnya menuju tukang tambal ban terdekat. Untunglahtak jauh dari lokasi saya, ada sebuah tambal ban kecil. Di situ sudah ada 2 motor yang bannya juga bocor. Anehnya, kedua motor tersebut ban dalamnya telah rusak dan tak bisa ditambal lagi. Artinya mau tak mau mereka harus membeli ban dalam kepada si tukang tambal ban.Tak tanggung-tanggung si tukang tambal memasang harga Rp 30 ribu untuk satu ban dalam beserta ongkos pemasangannya. Padahal kalau kita beli di toko, harga ban tersebut hanya sekitar Rp 12 ribuan.Saya jadi curiga, jangan-jangan si tukang tambal memang sengaja merusak ban untuk cari untung lebih banyak. Dan benar saja, ketika saya perhatikandia memang tidak hati-hati saat melepas ban dalam dari ban luar. Seperti tidak mengendurkan baut pentil. Tentu saja jika dipaksa, itu akan merusakban dalam.
(nrl/)











































