Bamsoet Bicara Peluang Bonus Demografi untuk Hadapi Era Society 5.0

ADVERTISEMENT

Bamsoet Bicara Peluang Bonus Demografi untuk Hadapi Era Society 5.0

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 11 Okt 2022 14:56 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-64 dan Wisuda Program Sarjana S1, S2, dan S3 Tahun Akademik 2021/2022 Universitas Jayabaya hari ini.
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-64 dan Wisuda Program Sarjana S1, S2, dan S3 Tahun Akademik 2021/2022 di Universitas Jayabaya. Bamsoet membahas tentang peran kolaborasi MPR RI dengan perguruan tinggi dalam membangun karakter bangsa di Era Society 5.0.

Menurutnya, saat ini MPR RI sedang menyiapkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) untuk memastikan Indonesia siap menghadapi Society 5.0. Tak hanya itu, langkah ini juga menjadi upaya menyambut Indonesia Emas 2045.

"Di dalam PPHN terdapat capaian yang ingin diraih bangsa dalam berbagai sektor, salah satunya sektor pendidikan. Sehingga tidak lagi terjadi setiap kali ganti pemerintahan atau ganti menteri, menyebabkan ganti kurikulum pendidikan yang justru membuat tenaga pendidik dan peserta didik menjadi kebingungan. Seringkalinya terjadi pergantian kurikulum menandakan bahwa bangsa kita belum memiliki roadmap pendidikan yang terarah, yang bisa dilaksanakan oleh siapapun yang memimpin Indonesia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (11/10/2022).

Ketua DPR RI ke-20 ini menilai generasi muda merupakan aset, potensi, dan investasi penting bagi kemajuan Indonesia. Terlebih saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi bonus demografi, yang akan didominasi penduduk usia produktif dengan mayoritas generasi muda.

Bamsoet mengatakan titik puncak fase bonus demografi diperkirakan terjadi hingga tahun 2030, dengan jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 285 juta hingga 300 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persennya, atau sekitar 199,5 juta hingga 210 juta jiwa merupakan kelompok usia produktif.

"Yayasan Indonesia Forum dalam Visi Indonesia 2030 memproyeksikan kekuatan ekonomi Indonesia mencapai posisi lima besar dunia pada tahun 2030, di saat kita berada pada posisi puncak bonus demografi. Tingkat pendapatan perkapita mencapai USD 18.000 per tahun, terbesar kelima setelah China, India, Amerika Serikat, dan Uni Eropa," jelasnya.

"Sementara dalam laporan 'Essential 2007' yang diterbitkan United Bank of Switzerland (UBS), diprediksi pada tahun 2025 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia, dan pada tahun 2050, posisi Indonesia akan menempati urutan ke 5," imbuhnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini pun menambahkan berbagai proyeksi tersebut menggambarkan besarnya potensi kekuatan perekonomian nasional, dan kontribusi bonus demografi. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar momentum tersebut tidak boleh dilewatkan secara sia-sia.

Bamsoet menyebut bangsa Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara-negara yang telah mengoptimalkan periode bonus demografi. Beberapa di antaranya, seperti Korea Selatan, Tiongkok dan Jepang.

"Kunci keberhasilan negara-negara tersebut dalam memanfaatkan bonus demografi adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Sehingga ketika berada pada fase bonus demografi keberlimpahan penduduk usia produktif bertransformasi menjadi sumberdaya pembangunan yang tidak hanya memiliki daya saing, kreatif dan inovatif, namun juga memiliki karakter dan wawasan kebangsaan," paparnya.

Dalam menghadapi bonus demografi, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini pun mengimbau untuk menyiapkan kelompok usia produktif sebagai sumber daya pembangunan yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan.

Bamsoet menjelaskan saat ini masyarakat dihadapkan dengan kemajuan teknologi, derasnya arus globalisasi, serta kondisi ideologi, politik, dan ekonomi global yang dinamis, penuh dengan disrupsi dan kompetisi. Untuk itu, pendidikan karakter bangsa dan wawasan kebangsaan penting untuk diselenggarakan dalam forum-forum lingkungan akademis, khususnya perguruan tinggi. Hal ini sebagai upaya untuk menyentuh generasi muda bangsa sebagai aset pembangunan.

"Dalam kerangka itu, MPR senantiasa berupaya membangun 'benteng ideologi', melalui vaksinasi ideologi menggunakan vaksin Empat Pilar MPR RI, yang terdiri dari Pancasila sebagai dasar negara, landasan ideologi, falsafah, etika moral serta alat pemersatu bangsa; Undang-Undang Dasar Negara Republik Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus yang harus dijunjung tinggi serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat pemersatu bangsa," pungkas Bamsoet.

Sebagaimana diketahui, dalam acara ini, turut hadir antara lain, Koordinator Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) Wilayah III Paristiyanti Nurwardani, Ketua Yayasan Jayabaya Yuyun Moeslim Taher yang diwakili Adang Taher, Rektor Universitas Jayabaya Amir Santoso, dan segenap sivitas akademika Universitas Jayabaya.

(akd/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT