SBY Cium Guruh, Hubungan dengan Mega Membaik?

SBY Cium Guruh, Hubungan dengan Mega Membaik?

- detikNews
Rabu, 12 Jul 2006 10:39 WIB
SBY Cium Guruh, Hubungan dengan Mega Membaik?
Jakarta - Ada momen menarik yang luput dari pemberitaan pada Selasa (11/7/2006) kemarin. Presiden SBY bertemu Guruh Soekarnoputra. Bahkan, SBY mencium adik kandung Megawati Soekarnoputri itu. Pertanda membaiknya hubungan SBY-Mega? Cium pipi kanan, cium pipi kiri alias cipika cipiki antara Presiden SBY dengan Guruh bisa jadi bermakna dalam. Apalagi selama ini hubungan Mega-SBY masih terlihat kurang harmonis sejak menjelang Pilpres 2004 lalu. Selepas kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 putaran kedua mengalahkan Mega, kedua tokoh ini juga tidak pernah sekali pun bertemu. Guruh selama ini dikenal sebagai saudara kandung yang paling dekat dengan Megawati. Guruh juga satu-satunya adik Mega yang tetap berada satu bendera di PDI Perjuangan, partai yang dipimpin oleh Mega. Karena itu, wajar bila pertemuan hangat SBY-Guruh ini diwacanakan sebagai membaiknya hubungan Mega-SBY. Sebenarnya, Guruh bukan orang dekat Mega yang pertamakali bertemu SBY. Adik kandung Mega, Rachmawati Soekarnoputri juga pernah bertemu SBY. Suami Megawati, Taufiq Kiemas juga pernah cipika cipiki dalam pertemuan di Palembang, Sumatera Selatan, beberapa waktu silam. Namun, selama ini, Mega masih tetap belum mau bertemu SBY. Pertemuan Guruh-SBY berlangsung di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Pertemuan keduanya pun bukan beragendakan politik. Guruh datang ke kantor SBY dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Yayasan Bung Karno. Bersama Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, Guruh melaporkan rencana pemindahan Bendera Pusaka Merah Putih dari Istana Negara ke Monumen Nasional (Monas) pada 17 Agustus 2006. Pemindahan bendera jahitan Ibu Fatmawati yang disponsori Pemprov DKI Jakarta itu memakan ongkos Rp 2,5 miliar.Pada kesempatan itu, Presiden SBY menekankan, sebagai bangsa yang besar harus dapat menghormati Bendera Pusaka Merah Putih sebagai simbol negara. Kewajiban semua pihak untuk melestarikan dan menempatkannya di tempat yang mulia.Menurut Guruh, rencana pemindahan ini sebenarnya sudah sejak masa pemerintahan Soekarno. Ada satu ruang di Monas, katanya, yang sudah dirancang untuk tempat bendera pusaka -- juga teks proklamasi. Kacanya tahan peluru, suhunya diatur sedemikian rupa, mengingat bendera pusaka ini sudah mulai rapuh, dan sebagainya. "Tempat itu masih kosong," kata Guruh. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads