KSAD Jangan Emosional, Menhan Harus Transparan

KSAD Jangan Emosional, Menhan Harus Transparan

- detikNews
Selasa, 11 Jul 2006 16:16 WIB
Solo - Effendi Ghazali menyarankan KSAD tidak emosional menghadapi berbagai kecurigaan publik dalam kasus penimbunan senjata di rumah Alm Brigjen Koesmayadi. Sedangkan Menhan disarankan segera memberikan penjelasan transparan mengenai kasus itu. Hal tersebut disampaikannya kepada wartawan sesuai menjadi pembicara seminar bertema manajemen opini publik dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi DPRD di Hotel Sahid Raya, Solo, yang digelar oleh Universitas Slamet Riyadi, Selasa (11/7/2006). Dipaparkan dia, dengan terungkapnya kasus penimbunan senjata di rumah Koesmayadi itu, maka diketahui banyak senjata yang beredar di luar jalur resmi yang bersumber dari tentara maupun broker yaitu dari lalu tentara disalurkan melalui pintu-pintu distribusi tertentu atau profil-profilnya melalui perantara. Khusus mengenai kasus di rumah Koesmayadi segera diikuti berbagai analisa dan kecurigaan, termasuk kemungkinan akan digunakan untuk kudeta, mengingat jumlah senjata yang ditemukan sangat banyak padahal tanpa diketahui jelas peruntukannya. Karenanya, menurut pakar komunikasi politik tersebut, Menhan dan Panglima TNI harus memberi penjelasan jika tidak ingin menghendaki munculnya asumsi publik bahwa di luar institusi resmi banyak orang yang pegang senjata dan tidak diketahui identitas maupun tujuannya memegang senjata. "Bagi kepentingan publik, ini momentum baik bagi Menhan Juwono Sudarsono yang orang sipil dan juga bagi Panglima TNI untuk memberikan dua hal, yaitu menjelaskan kepada kita dan jangan ditunda-tunda lagi. Berapa waktu untuk bisa menjelaskan itu, sampaikan dengan jelas dan kita akan menunggu," ujarnya. "Yang kedua adalah penjelasan yang tuntas dan terbuka siapa di balik kasus itu setelah di luar muncul inisial-inisial. Tanpa kedua hal itu maka secara otomatis membenarkan skenario dan analisa yang bermunculan bahwa kasus itu berkaitan dengan kudeta dan bisnis senjata, padahal uang untuk membelinya dari rakyat," lanjutnya. KSAD EmosionalGhazali juga menyayangkan sikap KSAD yang marah-marah di gedung DPR. Dia memaklumi TNI AD saat ini sedang dalam posisi serba sulit karena orang tidak mempercayainya, namun KSAD tidak perlu bersikap emosional seperti itu jika memang dia tidak merasa bersalah dalam kasus penimbunan senjata tersebut. "Kasusnya seperti Zidane yang marah sebegitu rupa itu. Kalau TNI AD membalas marah-marah pada wartawan maka dia yang dikartu-merahkan oleh wartawan. Padahal ini kasus yang strategis karena muncul pada saat orang orang tersentak pada masalah-masalah terkait penemuan senjata dalam jumlah cukup besar," kata dia. Lebih lanjut Ghazali memberi sebuah catatan yang berkembang dalam pengusutan kasus tersebut. Catatannya itu adalah tentang perilaku seorang anggota DPR yang terkesan memberikan sorotan tajam dan sangat vokal mengenai masalah tersebut. Di balik sikap itu, kata dia, perlu dicurigai motifnya. "Ada yang menarik di sini, saya tidak perlu menyebut nama. Ada orang di DPR yang saat ini kelihatannya sangat vokal. Nah ini menjadi sangat menarik, apakah dia vokal karena bisnis atau apa. Tetapi yang menarik adalah bahwa dia diberi kesempatan untuk vokal. Ini 'kan penting," ujar dia. (asy/)



Berita Terkait