Saya Bukan Politisi Lagi

Amien Rais:

Saya Bukan Politisi Lagi

- detikNews
Selasa, 11 Jul 2006 14:32 WIB
Yogyakarta - Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Prof Dr HM Amien Rais mengaku saat ini dirinya bukan politisi lagi, meski masih berbicara masalah situasi politik di negeri ini. Amien mengenalkan dirinya saat ini adalah seorang pengajar di almamaternya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Hal ini disampaikan Amien Rais saat menjadi keynote speaker dalam acara 'Konvensi Kampus III dan Temu Ilmiah Forum Rektor Indonesia' di Balai Senat Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (11/7/2006). "Ini bukan politik praktis dan saya sudah bukan politisi lagi. My era has been over. Saya kembali membantu mengajar Pak Sofian Effendi," kata dia. Meski mengaku sudah bukan seorang politisi dan tidak berbicara masalah politik praktis, Amien masih sering merasa gerah terhadap situasi negara Indonesia yang belum mampu keluar dari keterpurukan dan belum bisa bangkit lagi. Padahal, negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia sudah bisa keluar dari krisis.Dalam pertemuan itu, Amien mengaku ingin memberikan semacam permohonan dan brain washing kepada anggota Forum Rektor Indonesa (FRI). Sebab, semuanya merupakan bagian dari tubuh bangsa Indonesa yang masih bisa berpikir. Selain itu, para rektor juga masih punya serdadu, yaitu mahasiswa yang bisa bergerak dan mengubah wacana. "Ini penting, sebab kita ini memang tidak pernah bisa kembali kalau kita hanya menjadi bangsa pelayan, komparador yang melayani kepentingan bangsa asing. Menomorsatukan kepentingan korporatokrasi dan menomorduakan kepentingan bangsa sendiri. Ini berbahaya sekali," kata mantan ketua umum PAN mengingatkan. Menurut dia, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia setelah amandemen UUD adalah tidak mampu keluar dari cengkeraman globalisasi. Amien lantas mengingatkan, apa yang dikatakan mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad mengenai Bung Karno bahwa bangsanya hidup dalam cengkeraman neokolonialisme dan neoimperalisme itu, adalah betul sehingga dia perlu membentengi bangsa Indonesia. "Sekarang ini dikatakan Bung Karno saat itu, makin lama makin terasa. Globalisasi itu ternyata memang lebih merugikan negara ketiga dan yang mendapat keuntungan negara kuat," katanya.Menurut Amien, korporatokrasi itu ada lima pilar. Pertama big corporacy, seperti ExxonMobile, Freeport, dan lain-lain. Mereka kawin dengan pilar kedua, yakni pemerintah. Selanjutnya kawin lagi dengan pilar ketiga, yaitu bank-bank internasional yang mendanai semua kegiatan, ditambah pilar keempat yakni elit nasional yang menghambakan diri kepada ketiga pilar tersebut. "Sedang pilar kelima adalah media massa yang lebih memihak kepentingan korporatokrasi dan cenderungmelupakan kepentingan bangsa sendiri," papar pria yang pernah dijuluki 'Bapak Reformasi' itu. Dalam melawan korporatokrasi, kata Amien, ada negara yang mampu bertahan hidup, maju-mundur dan ada pula yang sudah tertelan. Negara Cina, India, Iran, Turki, Thailand dan Malaysia merupakan contoh negara yang bermain pencak silatnya cukup ampuh, sehingga tidak tertelan. "Tapi kita ini tidak melawan, tapi tertelan. Tanpa kita berani memulihkan keberanian, maka sesungguhnya kita melanggar konstitusi kita," demikian Amien. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads