Titik Lejit

ADVERTISEMENT

Kolom Hikmah

Titik Lejit

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 07 Okt 2022 08:02 WIB
Sekretaris Majelis Pakar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aunur Rofiq
Foto: PPP
Jakarta -

Kisah seorang sahabat penulis yang bisa menemukan titik lejit tatkala ia mengalami masa sulit. Setiap orang biasa mengalami ujian Allah Swt. yang berupa kesulitan, ujian ini bisa menjadikan seseorang naik kelas dan tinggal kelas serta ada yang DO. Bagaimana mengelola ujian ini ? Ada yang bersikap tenang sehingga bisa menemukan jalan keluar, emosional akan membuahkan kepanikan dan ada yang tidak berbuat apapun. Sahabat penulis adalah seorang yang yakin bahwa Allah Swt. tidak akan memberikan beban yang melampaui kemampuannya. Ia juga memegang prinsip yang teguh tidak mudah terpengaruh, sabar dan istiqomah.

Mari kita simak ayat-ayat dalam firman-Nya, surah al-Baqarah ayat 155-157 yang berbunyi, " : "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."


Dalam ayat tersebut terdapat bentuk-bentuk ujian dari Allah Swt. yang mungkin saja terjadi pada kita. Namun sikap yang baik saat menerima ujian sebaiknya dengan berlapang dada dan bersabar. Sedangkan dalam segala ujian yang berupa musibah maupun kesenangan ada pertolongan Allah Swt. bagi orang yang sabar.

Ujian berupa kesulitan merupakan hal biasa agar kita bersabar, namun ujian kesenangan ( keberhasilan ) akan sedikit lebih sulit mengelolanya, saat kita terlena sedikit maka sikap menjadi berbangga diri dan sombong pada sesama. Posisi ini bisa terjadi pada semua golongan, ada pengusaha mencetak laba yang tinggi kemudian berkata dalam hati, " Ini merupakan hasil kerja keras saya, karena ikhtiar yang saya lakukan dengan tepat." Ikhtiar adalah keharusan dan hasil merupakan pemberian-Nya. Jadi janganlah mengagungkan ikhtiar, karena upaya itu bukan segalanya, yang segalanya adalah Allah Swt. bisa saja seseorang sudah berikhtiar namun hasilnya ( anugerah-Nya ) bisa tidak sesuai harapannya. Ingatlah ikhtiar itu bisa mengkhianati hasil sepanjang Allah Swt. menghendakinya.

Ahli Tasawuf sering memberikan nasihat seperti ini, " Saat kita mengalami musibah, disamping bersikap sabar hendaknya bersyukur." Karena bersabar dan bersyukur akan melengkapkan iman kita dan pahalanya jauh lebih besar dari hanya bersabar saja.

Kembali kisah sahabat penulis, tatkala usahanya diuji dimana seluruh kewajiban telah melampaui nilai asetnya. Kepanikan adalah sikap wajar, namun ia tetap tenang dan selalu berdo'a pada-Nya, karena ia yakin bahwa semua kejadian yang menimpanya berasal dari-Nya. Kesabaran menjadikan sahabatnya, mengeluh atas yang dialaminya adalah musuhnya, bertawakal adalah nafasnya. Saat di rumah tidak ada yang bisa digunakan untuk menopang tulang sulbi alias untuk dimakan, ia mengorek-ngorek menemukan botol parfum, maka dijuallah 4 botol dengan memperoleh dana 20.000 rupiah dan dibelikan beras. Disini sudah terlihat kesabarannya untuk tidak mengeluh pada siapapun, hanya " mengeluh " dengan mengetuk pintu langit. Ia tetap teguh berikhtiar dan istiqomah dengan memohon pada Sang Pencipta agar diberikan jalan-Nya. Ia sadar bahwa tugas dan kewajibannya mesti dijalankan. Sang Maha Kuasa telah memenuhinya, meski demikian ia tetap bersahaja dan selalu mengingat-Nya karena pemberian ini bukanlah hal yang kekal namun fana yang setiap saat bisa berubah.

Kekuatan yang bisa menemukan titik lejit ini adalah keimanan, tanpa iman seseorang bisa berpaling pada-Nya dengan mengatakan itu karena upanya. Kehidupan masyarakat yang sudah menjauh dari keimanan niscaya akan mengalami kegalauan meskipun kondisi ekonominya telah melampaui standar. Tengoklah beberapa negara maju yang mana terjadi kegalauan hidup, banyak kasus bunuh diri, kehidupan bebas ( termasuk yang dilarang oleh agama ). Inilah bukti bahwa menjauhnya mereka dari agama ( tauhid ) yang berawal dari dilemparkannya agama dari negara. Kehidupan suatu negara tanpa diikuti norma/nilai - nilai moral niscaya waktu akan memberikan bentuknya.

Penulis akan simpulkan kisah sahabat tersebut di atas. Ia menemukan titik lejit karena Iman. Iman bukanlah ucapan lisan bahwa dirinya seorang mukmin. Orang munafikpun dengan lisannya bisa mengucapkan hal yang sama. Marilah kita simak beberapa firman-Nya dalam surah al-Mu'minun ayat 1-5 yang berbunyi, " Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ( yaitu ) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang- orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya."

Semoga Allah Swt selalu membimbing, menuntun agar kita tidak bersombong maupun berbangga diri karena keberhasilannya serta menjadikan kita sabar dan bersyukur menjadi makanan sehari-hari.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT