Ramalan Bung Karno dan Misteri Kehidupan Luhut B Panjaitan

ADVERTISEMENT

Ramalan Bung Karno dan Misteri Kehidupan Luhut B Panjaitan

Sudrajat - detikNews
Rabu, 05 Okt 2022 12:13 WIB
Poster
Luhut Binsar Pandjaitan (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Suatu hari pada 1948, Presiden Sukarno (Bung Karno) berkunjung ke Balige. Mendengar kabar itu, Siti Frida Naiborhu dan adiknya yang ketujuh, Mintaria, bersama ratusan warga lain di kampungnya dengan antusias ikut menyambut. Frida datang sembari menggendong putra sulungnya yang masih bayi, Luhut Binsar Panjaitan.

Mungkin karena terlihat berbeda: gendut, putih, dan aktif sekali, ketika melihatnya, Bung Karno sengaja mendekat ke arah Frida dan mengusap-usap kepala bayi yang digendongnya. "Suatu hari anak ini akan jadi orang besar," kata Bung Karno kemudian.

Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir mengungkapkan cerita yang didengar dari tantenya, Mintaria, dalam buku bertajuk 'Luhut' yang ditulis Noorca M Massardi. Buku yang ditulis berdasarkan sudut pandang Kartini Sjahrir itu diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dan diluncurkan pada hari ultah ke-75 Luhut pada 27 September 2022.

Bung Karno disambut warga di Balige, Sumatera Utara, 1948Bung Karno disambut warga di Balige, Sumatera Utara, 1948 (Foto: Repro: Biografi Luhut Binsar Panjaitan)

Di buku ini, Kartini juga menyampaikan cerita bahwa semasa kecil Luhut pernah ditanduk seekor kerbau sehingga terkapar di tanah. Beruntung, Luhut hanya mengalami luka gores di punggung.

Bagi Luhut pribadi, elusan dan pertemuan dengan Bung Karno itu tak pernah mempengaruhi jalan hidupnya. "Saya sendiri baru mendengar cerita itu setelah dilantik menjadi menteri oleh Presiden Gus Dur," ujarnya datar. Dia dilantik menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kamis, 24 Agustus 2000. Luhut menggantikan Jusuf Kalla, yang baru enam bulan menjabat tapi kemudian diberhentikan Gus Dur.

Luhut tak berlebihan saat mengatakan elusan Bung Karno tak mempengaruhi jalan hidupnya, terutama di militer. Pangkatnya naik tertatih-tatih, jabatan yang diembannya tak terlalu strategis, sama sekali tak menggambarkan capaian prestasi akademis dan kompetensi dirinya.

Luhut lulusan terbaik di Angkatan 1970 dan meraih Adhi Makayasa, yang disematkan langsung oleh Presiden Soeharto. Begitupun saat mengikuti pendidikan lanjutan di Kopassus, dia adalah yang terbaik. Dia pernah mengikuti berbagai pelatihan di sekolah-sekolah militer terbaik di AS. Luhut juga meraih gelar master dari George Washington University.

Bagaimana karier Luhut selanjutnya? Baca halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT