Kasus Ibu Bunuh Anak di Sragen: Kronologi dan Dugaan Penyebab

ADVERTISEMENT

Kasus Ibu Bunuh Anak di Sragen: Kronologi dan Dugaan Penyebab

Agil Trisetiawan Putra - detikNews
Selasa, 04 Okt 2022 17:56 WIB
Seorang ibu bunuh anak di Sragen, Jawa Tengah. Wanita tersebut tega menghabisi nyawa putranya sendiri di rumah mereka pada Selasa (4/10/2022).
Ilustrasi garis polisi (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Seorang ibu bunuh anak di Sragen, Jawa Tengah. Wanita tersebut tega menghabisi nyawa putranya sendiri di rumah mereka pada Selasa (4/10/2022).

Lantas, bagaimana kronologi pembunuhan seorang pria yang dilakukan oleh ibunya? Berikut informasi selengkapnya.

Kronologi Ibu Bunuh Anak di Sragen

Suwarni (64), seorang ibu asal Dukuh Tlogongan RT 22, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah telah membunuh anaknya, Supriyanto (46). Pembunuhan terjadi pada Selasa (4/10/2022) pukul 01.00 WIB dini hari di rumah mereka.

"Hubungan antara korban dan tersangka adalah anak ibu," kata Kasi Humas Polres Sragen, Iptu Ari Pujianto, dikutip dari detikJateng, Selasa (4/10/2022).

Awalnya, korban sedang tidur di teras rumah itu. Saat korban tidur, sang ibu langsung menghabisi nyawa anaknya.

Seorang ibu bunuh anak di Sragen, Jawa Tengah. Wanita tersebut tega menghabisi nyawa putranya sendiri di rumah mereka pada Selasa (4/10/2022).Seorang ibu bunuh anak di Sragen, Jawa Tengah. Wanita tersebut tega menghabisi nyawa putranya sendiri di rumah mereka pada Selasa (4/10/2022). (Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikcom)

Supriyanto Bekerja Sebagai Buruh Bangunan

Supriyanto sendiri diketahui bekerja sebagai buruh bangunan. Selain itu, Supriyanto dulu tinggal bersama istrinya di Cantel, Sragen Kota. Namun, semenjak pisah ranjang, Supriyanto kembali tinggal bersama ibunya.

"Sudah 3 bulan lalu tinggal di sini. Tidur di dalam nggak boleh, bolehnya tidur di luar, karena hubungan tidak baik. Ada konflik apa, saya nggak tau," ucap Suwarno, Ketua RT setempat, Selasa (4/10/2022).

Suwarni Minta Tetangga Buang Jasad Anaknya ke Sungai

Pelaku sempat meminta tolong kerabatnya untuk membuang jasad korban ke aliran Sungai Mungkung yang berada di belakang rumah pelaku. Namun, tidak ada yang bersedia memenuhi permintaan Suwarni

"Jasadnya mau dibuang ke sungai minta bantuan saudaranya, tapi nggak mau. Saya juga disuruh, tapi saya juga nggak mau. Saya bilang jangan dibuang nunggu urusan, dia bilang 'ojo ngenteni urusan iki dirampungi dewe' (jangan nunggu urusan ini diselesaikan sendiri). Saya nggak mau karena ini urusannya panjang," kata Ketua RT setempat, Suwarno, Selasa (4/10/2022).

Pelaku Bunuh Anaknya Pakai Cangkul dan Batu

Ketua RT setempat, Suwarno (56) mengatakan jika pelaku dirinya usai pembunuhan tersebut. Saat diinterogasi, Suwarni mengaku sudah membunuh anaknya.

"Saya sampai di sini, gagang cangkul sudah patah. Dia bilang 'wau kulo pacul (tadi saya cangkul)', tapi dengan gagang atau besinya saya nggak tahu. Lalu dipukul dengan batu," kata Suwarno, Selasa (4/10/2022).

Tikar yang dipakai oleh korban sebagai alas tidur, digunakan pelaku untuk membungkus jasad anaknya

"Ada tangga bambu untuk menurunkan jasad korban, mau dibuang ke sungai sendiri, tapi tidak kuat," lanjut Suwarno.

Kasi Humas Polres Sragen, Iptu Ari Pujianto menyebutkan bahwa pihaknya sudah mengamankan sejumlah barang bukti, seperti bongkahan batu cor, cangkul yang kondisi patah. Cangkul itu digunakan pelaku untuk memukul Korban.

Polisi juga mengamankan dua HP, tikar dan tali yang digunakan untuk membungkus jenazah korban, dan tangga bambu.

Dugaan Penyebab Pembunuhan: Hubungan yang Tidak Akur

Wakapolres Sragen Kompol Iskandar mengungkapkan dugaan penyebab ibu bunuh anak di Sragen, Jawa Tengah pada Selasa (4/10). Motif sementara diduga karena hubungan yang tidak akur antara ibu dan anak tersebut.

"Motifnya masih kita dalami, karena saat ini masih proses pemeriksaan. Tapi untuk motif sementara, korban sering membuat malu karena ada laporan dari warga suka mencuri, tidak nurut, dan sering memarahi ibunya," kata Iskandar, Selasa (4/10/2022).

Selain itu, korban sering mencuri dan pernah ditangkap polisi karena kasus perjudian. Menurut Iskandar, hal itu membuat ibunya malu.

"Sebelum kejadian tidak ada cek-cok, tapi ibu dan anak ini sering ribut," ungkap Iskandar.

(kny/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT