ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Tradisi Unik Tnyafar Adaut, Tinggalkan Rumah-Bangun Gubuk di Pesisir

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 04 Okt 2022 12:16 WIB
Kepulauan Tanimbar
Foto: detikcom/Agung Pambudhy
Kepulauan Tanimbar -

'Tnyafar' jadi satu hal menarik yang ditemui tim detikcom dalam perjalanan ke Pulau Selaru di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku beberapa waktu lalu. Tradisi ini dilakukan oleh warga Desa Adaut sejak zaman nenek moyang hingga menjadi suatu adat dan cara bertahan hidup khas masyarakat setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maria Goretty Batlayeri mengungkap tradisi ini sudah dilakukan turun temurun hingga menjadi budaya masyarakat Selaru. Khususnya di Desa Adaut yang sebagian penduduknya berkebun dan tinggal di daerah Tnyafar.

"Mereka bertahun-tahun, dari dahulu kala hingga hari ini tinggal di daerah tersebut. Jauh di pesisir pantai untuk melakukan segala aktivitas (berkebun), termasuk juga menikah dan hidup beraktivitas di sana," ungkap Retty kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Untuk sampai ke wilayah Tnyafar, dibutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam perjalanan melewati jalan tanah berbatu dari Desa Adaut. Kabarnya, jalan ini baru saja dibuka beberapa waktu lalu untuk memudahkan akses warga Adaut menuju Tnyafar. Sebelumnya, warga harus menyeberang menggunakan perahu-perahu kecil untuk bisa sampai di Tnyafar.

Setiba di Tnyafar, pemandangan gubuk kayu dengan atap daun kelapa berbaris rapi di sepanjang pesisir pantai. Hampir setiap rumah di Tnyafar memiliki tempat pengeringan rumput laut karena mayoritas warga di sana merupakan petani rumput laut -atau yang biasa disebut warga sebagai agar-agar-. Namun, tak sedikit pula yang berkebun di darat menanam ubi, singkong, dan tanaman apapun yang bisa tumbuh di sana.

Kepulauan TanimbarKepulauan Tanimbar Foto: detikcom/Agung Pambudhy

Hidup warga Tnyafar sangat sederhana, bahkan listrik pun belum menjangkau area tersebut. Areanya yang masih dikelilingi hutan pun membuat serangan nyamuk ganas menjadi salah satu hal yang harus dihadapi warga.

"Budaya Tnyafar sudah ada dari orang tua-tua (nenek moyang) dulu. Ada yang berkebun di darat dan juga kebun di laut (rumput laut). Tidak ada Tnyafar di tempat lain, cuma di sini di Adaut," ungkap Beatrix Srue, salah satu warga Tnyafar dari Desa Adaut.

Meski hidup sederhana, warga Tnyafar sudah memiliki struktur organisasi tersendiri untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di sana. Mulai dari kepala Tnyafar yang dipilih oleh para anggota dan nantinya dilantik kepala desa. Hingga wakil kepala, sekretaris, dan bendahara yang bersama-sama mengurus keperluan desa, terutama saat ada tamu atau kunjungan majelis gereja.

Beatrix mengaku tetangganya di Tnyafar bukan lah saudara maupun tetangga di kampung halaman. Namun setelah hidup menahun bersama di Tnyafar dirinya seolah mendapatkan keluarga baru di sini.

Uniknya lagi, para warga di Tnyafar rutin pulang ke kampungnya di Adaut setiap seminggu sekali untuk beribadah. Mayoritas penduduk beragama Kristen dan Katolik akan pulang ke kampung pada hari Sabtu untuk beribadah di gereja pada hari Minggu. Sedangkan mereka yang beragama Islam akan pergi ke kampung di hari Jumat untuk melaksanakan Salat Jumat.

"Hari Sabtu kita konvoi sama-sama ke kampung. Kalau tidak dengan motor ya kita dengan mobil. Tapi beberapa tahun lalu hanya bisa lewat jalan pantai, ramai-ramai naik perahu kembali ke kampung untuk ibadah. Sekarang iringannya naik motor. Sabtu-Minggu pasti kosong di sini, Senin siang baru balik lagi (ke Tnyafar)," jelas Beatrix.

Beatrix mengungkap dirinya mengikuti tradisi Tnyafar untuk menyambung hidup. Ia meninggalkan kampung halamannya di Desa Adaut untuk menetap di gubuk kecil demi menghemat pengeluaran minyak (BBM) untuk pulang-pergi ke Adaut.

"Daripada tinggal di kampung kita tidak punya uang, lebih baik kita di sini. Sudah nyaman di sini," tutur Beatrix.

Beatrix mengaku sebelum tinggal di Tnyafar dirinya berjualan makanan matang di pasar Desa Adaut. Sayangnya, penghasilan yang didapat per harinya kerap tak menentu hingga ia memutuskan untuk bertani rumput laut di Tnyafar.

Para petani rumput laut di Tnyafar menggunakan metode tali bentang untuk membudidayakan komoditas yang mereka sebut agar-agar ini. Bermodalkan tali sepanjang kurang lebih 25 meter, mereka mengikatkan bibit rumput laut induk dan anakan lalu melepasnya ke perairan.

Masing-masing petani telah memiliki area kavling yang ditentukan bersama oleh warga Tnyafar. Adapun masa tanam bibit rumput laut ini berkisar 1,5-2 bulan. Selama periode tersebut, petani harus sesekali membersihkan kotoran yang menempel di tali rumput laut agar kualitasnya tetap terjaga. Namun di musim hujan dengan arus deras biasanya kotoran jarang menempel sehingga pekerjaan Beatrix dan para petani lainnya pun lebih ringan.

Kepulauan TanimbarKepulauan Tanimbar Foto: detikcom/Agung Pambudhy

Setelah masa tanam selesai, para petani akan menarik tali tersebut dan mengumpulkan hasil panen dalam keranjang-keranjang besar. Rumput laut yang sudah dilepas dari tali lalu dikeringkan selama 2-3 hari di bawah sinar matahari untuk kemudian dibawa agen yang akan menjualnya ke Surabaya.

Dalam sekali panen yaitu 1,5 bulan sekali, Beatrix bisa meraup rata-rata Rp 10 juta jika kualitas rumput laut sedang baik dan harga rumput laut sedang tinggi. Mulanya, ia hanya mampu memasang 10 tali rumput laut dalam sekali tanam namun kini dalam sekali tanam ia bisa memasang hingga 30 tali panjang.

Beatrix mengatakan usahanya di Tnyafar dapat semakin berkembang setelah mendapat bantuan pinjaman dari BRI. Ia mengaku telah mengambil pinjaman Kupedes sejak tahun 2017 di awal kepindahannya ke Tnyafar. Mulai dari pinjaman Rp 5 juta hingga terakhir pinjaman Rp 30 juta.

"Agar-agar ini modalnya beli tali, induk, dan anakan rumput laut. Kalau kita pinjam (uang), kita bisa beli bibit dan tali. Tapi kalau tidak ada uang kan tidak bisa," ungkap Beatrix.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT