3 Hal yang Disorot di Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

3 Hal yang Disorot di Tragedi Kanjuruhan

Matius Alfons - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 10:06 WIB
Police officers and soldiers stand amid tear gas smoke after clashes between fans during a soccer match at Kanjuruhan Stadium in Malang, East Java, Indonesia, Saturday, Oct. 1, 2022. Panic following police actions left over 100 dead, mostly trampled to death, police said Sunday. (AP Photo/Yudha Prabowo)
Foto: AP/Yudha Prabowo
Jakarta -

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, menewaskan 125 orang dan menyebabkan 323 orang luka-luka. Ada 3 hal menjadi sorotan dari tragedi maut tersebut.

Untuk diketahui, kericuhan terjadi usai Arema FC menelan kekalahan atas Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10). Suporter kala itu turun ke lapangan.

Hingga akhirnya polisi menembakan gas air mata berujung supporter panik berhamburan dan saling injak. Lebih dari 100 orang meninggal dunia akibat peristiwa tersebut dan ratusan lainnya terluka.

Ada beberapa hal yang menjadi sorotan dalam tragedi Kanjuruhan. Berikut daftarnya

Penggunaan Gas Air Mata

Salah satu yang disorot tajam yakni SOP penggunaan gas air mata untuk meredam massa suporter di stadion Kanjuruhan. Berbagai pihak pun menyoroti keputusan aparat menembakan gas air mata ke arah para suporter Arema FC.

Salah satu yang menyoroti yakni Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni. Ahmad Sahroni menyayangkan langkah aparat menggunakan gas air mata di dalam stadion untuk membubarkan ricuh suporter.

"Saya sebagai pimpinan komisi III secara khusus meminta Kapolri untuk memberikan atensi luar biasa terhadap kasus ini. Usut tuntas dan tindak pihak yang bertanggung jawab," kata Sahroni dalam keterangannya, Minggu (2/10).

Sahroni juga mengatakan kesalahan dalam kasus itu bukan dari satu pihak, tapi yang mutlak dilanggar oleh aparat yakni penggunaan gas air mata. Dia pun menyinggung aturan FIFA terkait penggunaan gas air mata di dalam stadion.

"Kesalahan pasti ada di lebih dari 1 pihak, bisa suporter, panpel, dan klub, atau aparat. Semua harus diusut. Namun yang jelas dan telak sudah dilanggar adalah penggunaan gas air mata oleh aparat," ucapnya.

"Yaitu gas air mata bisa memicu kericuhan dan kepanikan yang sangat berbahaya bila terjadi di stadion. Dan terbukti bila dilanggar, tragedi inilah yang terjadi. Ini jelas tertulis di pasal 9b peraturan FIFA terhadap pengamanan stadion," paparnya.

Sejumlah anggota DPR lainnya juga menyoroti penggunaan gas air mata ini. YLBHI juga tak luput mengkritisi keputusan Polri.

Sementara itu, FIFA juga sebetulnya sudah mengeluarkan larangan terkait penggunaan gas air mata. Larangan penggunaan gas air mata tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Pada pasal 19 b) tertulis, 'No firearms or "crowd control gas" shall be carried or used'. Bunyi aturan ini intinya senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang dibawa serta digunakan.

Simak sorotan lainnya di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT