LPSK soal Tragedi Kerusuhan Kanjuruhan: Harus Ada yang Tanggung Jawab

ADVERTISEMENT

LPSK soal Tragedi Kerusuhan Kanjuruhan: Harus Ada yang Tanggung Jawab

Dwi Rahmawati - detikNews
Minggu, 02 Okt 2022 12:35 WIB
In this picture taken on October 1, 2022, a group of people carry a man after a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya at Kanjuruhan stadium in Malang, East Java. - At least 127 people died at a football stadium in Indonesia late on October 1 when fans invaded the pitch and police responded with tear gas, triggering a stampede, officials said. (Photo by AFP) (Photo by STR/AFP via Getty Images)
Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim (AFP via Getty Images/STR)
Jakarta -

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) angkat bicara terkait 130 orang tewas dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. LPSK menilai harus ada pihak yang bertanggung jawab.

"Ini bukan lagi musibah tapi tragedi, harus ada yang bertanggung jawab. Korban itu bahkan statistik tapi tubuh bernyawa seperti kita. Setiap peristiwa yang mengakibatkan jatuhnya korban harus ada pertanggungjawabannya," kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu dalam keterangannya, Minggu (2/9/2022).

LPSK menyampaikan duka mendalam kepada korban kerusuhan pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang. "Indonesia berduka," lanjutnya.

Edwin mengatakan LPSK mempunyai kewenangan untuk melindungi para saksi apabila tragedi tersebut diusut ke dalam ranah pidana.

"LPSK bisa masuk bila ini jadi masalah pidana, LPSK bisa melindungi para saksi untuk ungkap perkara ini," kata Edwin.

Sementara itu, Ketum YLBHI Muhamad Isnur (YLBHI) juga menyoroti tragedi di Kanjuruhan. YLBHI mengecam tindakan represif aparat terhadap penanganan suporter dengan tidak mengindahkan berbagai peraturan, terkhusus implementasi prinsip HAM Polri.

"Mendesak negara untuk segera melakukan penyelidikan terhadap tragedi ini," kata Isnur.

YLBHI menilai Padahal penggunaan gas air mata di stadion dilarang oleh FIFA. FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion.

YLBHI menilai tindakan aparat dalam kejadian tersebut bertentangan dengan beberapa peraturan sebagai berikut:

1. Perkapolri No 16 Tahun 2006 Tentang Pedoman pengendalian massa
2. Perkapolri No 01 Tahun 2009 Tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian
3. Perkapolri No 08 Tahun 2009 Tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara RI
4. Perkapolri No 08 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak Dalam Penanggulangan Huru-hara
5. Perkapolri No 02 Tahun 2019 Tentang Pengendalian Huru-hara

Ia juga meminta pembentukan tim penyelidik independen serta mendesak Kompolnas dan Komnas HAM untuk memeriksa dugaan Pelanggaran HAM, dugaan pelanggaran profesionalisme dan kinerja anggota kepolisian yang bertugas.

"Mendesak Propam Polri dan Pom TNI untuk segera memeriksa dugaan pelanggaran profesionalisme dan kinerja anggota TNI-Polri yang bertugas pada saat peristiwa tersebut," katanya.

Selain itu, YLBHI mendesak Kapolri untuk melakukan evaluasi secara tegas atas tragedi yang terjadi yang memakan korban jiwa, baik dari masa suporter maupun kepolisian.

"Mendesak Negara cq. Pemerintah Pusat dan Daerah terkait untuk bertanggung jawab terhadap jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam tragedi Kanjuruhan, Malang," tuturnya.


Jokowi Minta Kapolri Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

Presiden Jokowi menyampaikan dukacita atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang. Jokowi meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan investigasi.

"Khusus pada Kapolri saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini," kata Jokowi dalam jumpa pers, Minggu (2/10/2022).

Jokowi juga memerintahkan Menpora serta Ketum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait tragedi ini. Dia mengatakan Pelaksanaan hingga prosedur penanganan penyelenggaraan harus dievaluasi.

Simak Video: FIFA Sudah Larang Gas Air Mata! Polri Tetap Gunakan, Kenapa?

[Gambas:Video 20detik]



(yld/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT