Jejak Barack Obama
Si Kidal di Bangku Belakang
Senin, 10 Jul 2006 11:10 WIB
Jakarta - Kenangan akan Barack Obama saat tinggal di Indonesia masih terekam jelas. Fisiknya yang berbeda membuat senator AS dari Partai Demokrat dan calon presiden AS tahun 2008 ini mudah diingat. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Barry - panggilan Barack - selalu duduk di belakang. "Oh, ya. Yang postur tubuhnya lebih tinggi dari teman-teman sekelasnya, berkulit hitam seperti negro dan rambutnya keriting itu," kata wali kelas 1B SD Asisi masa 1967, Israella Pareira (62), saat di temui Detikcom di rumahnya, di Jl KH Ramli, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2006).Karena posturnya yang tinggi dan lebih besar dibanding dengan anak-anak lainnya, Barry pun biasa duduk di deret belakang. Dia tidak pernah duduk di bangku depan. "Dia selalu duduk di bangku belakang. Itu biar tidak menghalangi teman-temannya. Dia sebangku dengan temannya, Boyke," ucapnya.Barack dikenal dengan nama Barry Soetoro, seperti yang tercantum dalam buku register SD Asisi, Menteng Dalam. Tercatat masuk pada 1 Januari 1968 dan duduk di kelas 1b. "Barry itu kalau menulis kidal, makan juga. Tulisannya bagus. Selain itu bahasa Inggrisnya fasih," kenang guru yang pensiun tahun 2004 ini.Menurut dia, saat bersekolah di SD Asisi tahun 1968-1970, Barry biasa diantar oleh ibunya, Ann Dunham, hingga pintu gerbang. Yang dia tahu, ibunya memiliki ciri berambut pirang panjang, kurus, dan tinggi. Ibunda Barry sering dipanggil Ann Soetoro. "Ibunya sangat care, kadang-kadang suka mengantar sampai masuk ke kelas. Ibunya juga biasa membekali sarapan Barry roti. Kalau istirahat barry selalu memakannya sepertinya itu makanan kesukaannya," ujar nenek dari beberapa orang cucu ini.Bu Is, demikian dia biasa disapa, mulai mengingat-ingat kenangan akan muridnya itu. Menurut dia, meski berasal dari luar negeri dan memiliki fisik berbeda, Barry mudah bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Barry mudah beradaptasi. Dia sering keluar dan bermain-main dengan anak-anak Indonesia. "Dia juga suka bercanda," ucapnya.Saat pertama kali masuk sekolah, Barry agak kesulitan memahami pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Pada awalnya, Barry juga suka berbicara terbata-bata dalam bahasa Indonesia. "Saya selalu bertanya kepada dia apa ada yang tidak dia mengerti. Kemudian saya membimbingnya dan mengajarinya dalam bahasa Inggris. Kebetulan saya memiliki keahlian bahasa Inggris," ujarnya.Lama kelamaan Barry lancar dan mengerti bahasa Indonesia. Saat itu prestasi belajarnya pun mulai meningkat. "Ketika awal masuk nilainya jelek, tetapi kemudian prestasinya jadi baik. Dia paling pintar pelajaran matematika, nilainya selalu bagus," tuturnya.Dalam bergaul, meski Barry berkulit hitam, tidak ada teman-teman sekelas yang mengejeknya. "Pernah satu dua kali dia menangis diganggu anak-anak, tapi itu kan biasa anak kecil," imbuhnya.Barry kecil dalam ingatan gurunya seorang anak yang cerdas dan baik. "Dia anak yang sopan, pintar, penurut, tidak pernah bertengkar dengan temannya dan anaknya aktif," ujar nenek yang masih terlihat sehat dan bersemangat ini.Saat calon presiden AS ini bersekolah di SD Asisi, sekolah itu baru satu tahun berdiri. Waktu itu hanya ada 4 ruangan kelas, alasnya pun masih pasir dan atap sekolah tanpa eternit. "Teman-teman sekolah Barry waktu itu juga ada anak orang yang biasa saja, bahkan bersekolah tanpa alas kaki," ujarnya.Bu Is mengaku baru mendengar kembali kabar muridnya baru-baru ini. Dia mengaku kaget dengan prestasi Barry yang kini menjadi senator AS dari Illinois dan menjadi calon presiden AS 2008. Sebagai mantan gurunya, Bu Is tentu ikut bangga. "Saya harap Barry mau berkunjung ke sekolah kami, kalau bisa memberikan bantuan," tandas dia. Keterangan Foto: Inilah kompleks sekolah Fransiscus Asisi. Saat ini, selain SD, juga ada SMP, SMA, dan SMK.
(asy/)











































