Ketum Depenas SBNI Minta Buruh Adaptif di Era Revolusi Industri 4.0

ADVERTISEMENT

Ketum Depenas SBNI Minta Buruh Adaptif di Era Revolusi Industri 4.0

Dea Duta Aulia - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 17:34 WIB
Serikat Buruh Nasional Indonesia
Foto: Istimewa
Jakarta -

Dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 seluruh kalangan termasuk buruh dituntut adaptif dengan cara mengembangkan soft skill, kreatif, kritis, dan tetap menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hal itu bertujuan agar bisa bersaing di tengah perkembangan teknologi yang kian cepat.

Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (Depenas) Serikat Buruh Nasional Indonesia (SBNI) M Yusro Khazim mengatakan SBNI siap menjawab tantangan zaman melalui reorientasi gerakan buruh menuju digitalisasi industri. Serta tidak lupa tetap mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Hal tersebut diungkapkan olehnya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema 'Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Gerakan Buruh Indonesia' di Depok, Jawa Barat, Jumat (30/9). Acara tersebut turut dihadiri oleh Direktur Nusantara Center Prof. Yudhie Haryono, Ketua Umum Serikat Pegawai Surveyor Indonesia (SPASI) Andito, dan Ketua Umum SBNI Yusro Khazim.

"SDM dipersiapkan bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memperjuangkan cita-cita buruh yang besar seperti terlibat memiliki saham perusahaan tempatnya bekerja," kata Yusro dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/10/2022).

Sementara itu, Yudhie Haryono menuturkan adanya kepemilikan saham perusahaan akan membuat buruh merasa mempunyai rasa memiliki terhadap perusahaannya bekerja. Serta mereka juga para buruh mendapatkan pendidikan formal dan informal untuk meningkatkan kemampuan mereka.

"Maka, SBNI harus membuat Sekolah Perburuhan Nasional agar membuat solusi dari masalah yang ada, membuat kurikulum tentang perburuhan, agar paradigma negatif tentang buruh itu tidak ada," kata Yudhie.

Senada dengan itu, Andito mengatakan masalah ketenagakerjaan harus selaras dengan peningkatan kapasitas skill para buruh. Sebab semakin cepatnya transformasi digital maka akan berimplikasi terhadap peningkatan kebutuhan. Saat ini, secara rerata, buruh di Indonesia didominasi pekerja di bidang manufaktur, pertanian, pertambangan, dan konstruksi.

Belum lagi survey Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan masalah ketenagakerjaan menduduki peringkat tertinggi ke-2 di antara masalah lain seperti kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan. Hal ini disebabkan minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia.

"Sebelum COVID-19, hanya 12% pekerja yang masuk serikat pekerja atau buruh, karena itu solusinya adalah buruh atau serikat buruh harus move on dari pola pikir perubahan atau gerakan buruh yang konvensional seperti mobilisasi massa dan lain lain, solusinya upgrade kapasitas buruh," tutup Andito.

Simak juga 'Perwakilan Demo Temui Kasetpres, Ini Tuntutan yang Disampaikan':

[Gambas:Video 20detik]



(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT