Detik-detik Dramatis 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Diangkat dari Lubang Buaya

ADVERTISEMENT

Detik-detik Dramatis 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Diangkat dari Lubang Buaya

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 08:10 WIB
Jakarta -

Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Letkol Untung akhirnya bisa dipatahkan usai tujuh orang gugur. Ketujuh jenazah itu dikubur di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965. Siapa para pengangkut jenazah ini?

Sebagaimana diketahui, sumur yang ada di Lubang Buaya, Jakarta Timur itu berdiameter 75 senti meter dan kedalaman 12 meter. Ketujuh jenazah itu terdiri dari 6 jenderal TNI AD dan satu perwira menengah.

Ketujuh jenazah itu sengaja dimasukkan ke dalam sumur untuk menghilangkan jejak. Namun dua hari kemudian tepatnya 3 Oktober 1965, atas laporan dari Agen Polisi Dua Sukitman TNI AD berhasil menemukan sumur tersebut.

Tapi pasukan RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan tak kuasa melakukan evakuasi. Selain hari mulai gelap, perlengkapan pun amat terbatas. Akhirnya, kata Sintong dalam buku 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto meminta bantuan Panglima KKO (Marinir) Mayjen Hartono.

Prajurit marinir yang diminta bertugas adalah Lettu Mispan. Sehari-hari dia sebetulnya bertugas di Surabaya tapi hari itu tengah di Jakarta untuk suatu urusan. Mispan mengajak dua temannya, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Kandouw dan Peltu Sugimin.

Kala itu Kandouw adalah anggota Sipam (Sekolah Intai para Amfibi), dan Sugimin anggota pasukan Kipam (Kompi Intai para Amfibi). Oleh Letnan Niswan Sutarto, atasan Mispan, Kandouw diminta mencari teman-temannya untuk diajak ke Lubang Buaya.

"Jadi ketemu di jalan, ayo Min (Sugimin) melok (iku). Nang endi (ke mana)? Lubang buaya. Mereka nggak tahu Lubang Buaya iku opo. Cuma ketemu di jalan, saya nunjuk-nunjuk begitu saja. Ada 9 orang," tutur Kandouw saat ditemui detikcom, Selasa (19/9/2017), di kediaman Sugimin di Surabaya.

Menjelang tengah malam, Kandouw melanjutkan, terkumpul sembilan anggota KKO, satu dokter gigi, satu dokter umum, dan sopir. Pada 4 Oktober 1965 dini hari, pukul 04.00 WIB, rombongan KKO berangkat menuju Lubang Buaya tanpa tahu lokasi persisnya.

Kandouw hanya tahu bahwa Lubang Buaya ada di daerah Halim dekat Cililitan. Setelah dua jam berputar-putar di Cililitan akhirnya mereka sampai di Halim. Tapi pasukan RPKAD tak mengizinkan mereka masuk ke lokasi. Adu mulut pun sempat terjadi di antara dua kelompok prajurit pasukan elit tersebut.

Sementara di lokasi Lubang Buaya, pasukan RPKAD dalam keadaan tegang. Ketegangan baru bisa diatasi tatkala Mayjen Soeharto datang. "Mana anak - anak KKO yang saya minta datang ke sini?" tanya Soeharto.

"Langsung namanya Kapten Sukendar masuk, terus laporan. Mereka KKO yang akan menolong sudah ada di depan. Suruh mereka masuk. Baru kita diperbolehkan masuk," kata Kandouw.

Baca di halaman selanjutnya Detik-detik Dramatis 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Diangkat dari Lubang Buaya...

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT