Bamsoet Dukung Kendaraan Listrik KTT G20 untuk Migrasi Kendaraan di Bali

ADVERTISEMENT

Bamsoet Dukung Kendaraan Listrik KTT G20 untuk Migrasi Kendaraan di Bali

Sukma Nur - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 08:33 WIB
Ketua MPR Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendukung usulan Gubernur Bali I Wayan Koster agar kendaraan listrik yang dipakai saat penyelenggaraan KTT G-20 Bali, nantinya diserahkan kepada pemerintah provinsi Bali maupun stakeholders lainnya.

Hal ini diharapkan bisa menjadi stimulus untuk Bali dalam mempercepat migrasi kendaraan konvensional berbahan bakar minyak ke kendaraan masa depan bermotor listrik. Selain itu, nantinya juga bisa menarik lebih banyak komunitas otomotif berbasis kendaraan listrik.

Berdasarkan data the Millennium Alliance for Humanity and the Biosphere Stanford University, secara global diperkirakan minyak bumi akan habis pada tahun 2052, dan gas bumi akan habis pada tahun 2060. Dari dalam negeri, Dewan Energi Nasional memperkirakan cadangan minyak bumi nasional sebesar 4,2 miliar barel, akan habis dalam kurun waktu sekitar 9 tahun. Karena itu, kendaraan listrik perlu segera dimasifkan.

"Sedangkan cadangan gas bumi sebesar 62,4 triliun kaki kubik, juga akan habis dalam kurun waktu kurang lebih 18 tahun. Perhitungan tersebut dengan asumsi tidak ditemukan sumberdaya baru. Karena itu, kehadiran kendaraan listrik bukan hanya sebuah keniscayaan, melainkan telah menjadi kebutuhan yang harus segera dimasifkan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (30/9/2022).

Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan Keynote Speech dalam Indonesia Electric Motor Show 2022, di JCC, Jakarta, Kamis (29/9) kemarin.

Selain itu, Bamsoet menjelaskan Indonesia patut bersyukur karena hingga Agustus 2022, Pertamina menemukan tujuh sumur cadangan minyak dan gas baru. Pertamina juga menargetkan eksplorasi sebanyak 29 sumur hingga akhir periode 2022, atau meningkat 242% dibandingkan tahun 2021. Namun walaupun demikian, penting disadari jika minyak dan gas bumi adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui dan tetap akan habis di kemudian hari.

"Dari perspektif dunia otomotif, gambaran kondisi di atas mengantarkan kita pada satu kesimpulan, bahwa di satu sisi, kita harus lebih efisien dalam menggunakan ketersediaan energi yang ada. Di sisi lain, kita harus berupaya mencari sumberdaya alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan dan jumlah populasi yang terus bertambah menurut deret ukur," jelasnya.

Bamsoet juga mengatakan hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mendorong percepatan migrasi dari kendaraan konvensional berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan berbasis energi listrik. Migrasi kendaraan konvensional ke kendaraan listrik ini memiliki nilai urgensi yang tinggi, setidaknya untuk tiga alasan.

"Pertama, mengurangi polusi atau pencemaran udara. Sebagian besar, sekitar 60%, kontributor pencemaran atau polusi udara di Indonesia disebabkan oleh kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor mengandung gas beracun yang disebut karbon monoksida dan zat-zat berbahaya lainnya, seperti timbal, nitrogen dioksida, dan karbon dioksida," terang Bamsoet.

Alasan kedua dikatakan Bamsoet dapat mengurangi beban subsidi BBM oleh negara. Sebab, berdasarkan data Korlantas Polri, per awal Agustus 2022, jumlah kendaraan bermotor yang beredar di Indonesia mencapai lebih dari 149,7 juta unit. Konsekuensi dari meningkatnya kendaraan bermotor adalah tingginya serapan subsidi BBM.

Sebagai gambaran, pada tahun anggaran 2022, besarnya subsidi BBM dan kompensasi akan mencapai Rp 689 triliun atau lebih besar Rp 195,6 triliun dari yang dianggarkan pemerintah dalam APBN 2022 senilai Rp. 502,4 triliun.

"Alasan ketiga, meningkatkan ketahanan energi nasional. Penggunaan energi listrik sebagai pengganti BBM akan mengurangi konsumsi BBM dan beban subsidi yang harus ditanggung negara, sehingga meningkatkan ketahanan energi nasional," katanya.

"Penggunaan kendaraan listrik juga menjadi alternatif solusi untuk menekan ketergantungan impor migas dan merealisasikan komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca atau karbon dioksida sebesar 29% pada tahun 2030," pungkas Bamsoet.

Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster, Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimansyah, serta Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono. Juga hadir Pengurus Pusat IMI antara lain Bendahara Umum Iwan Budi Buana, Wakil Ketua Tengku Irvan Bahran dan Rifat Sungkar, Komisi Sosial Kombes Pol Putu Putera Sadana, Hubungan Antar lembaga Andrys Ronaldi, serta Komunikasi dan Media Sosial Dwi Nugroho.

(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT