Rebutan Rumah Warisan, Apakah Saya Sebagai Anak Angkat Dapat Hak?

ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Rebutan Rumah Warisan, Apakah Saya Sebagai Anak Angkat Dapat Hak?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 29 Sep 2022 09:45 WIB
ilustrasi warisan
Ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta -

Setelah meninggal dunia, orang tua mewariskan sejumlah harta peninggalan. Tapi bagaimana bila ternyata para anak-anaknya berebut harta warisan itu?

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com Berikut pertanyaan lengkapnya:

Saya dibesarkan oleh bapak dan ibu yang ternyata bukan orang tua asli saya. Menurut keterangan saudara, saya dibesarkan dari umur 13 hari. Sebelum meninggal almarhum membayarkan sebuah kios adiknya di tahun 2015 dan memberikan uang sebesar Rp 15 juta untuk balik nama surat tersebut atas nama saya (sebut saja Doni).

Dari 2015 sampai sekarang surat tersebut tidak ada di tangan almarhum bapak dan saya dan belum juga dibalik nama atas nama saya.

Menurut pernyataan dia surat itu digadai dan adiknya almarhum bapak bilang kalau saya tidak pantas dapat itu karena saya anak angkat. (Apakah itu disebut hibah atau bagaimana). Next sebelum meninggal almarhum dan almarhumah berpesan sama saya kalau rumah yang satu itu dibagi 4 bapak, ibu, kakak (anak angkat juga,dari umur 13 tahun tapi dari abangnya bapak dan saya. Bisa disebut keponakan) dan saya.

Dan 1 rumah lagi itu almarhum bilang disuruh dirawatin dan disuruh terusin pembangunannya. Almarhum bapa juga bilang setelah ibu meninggal (bapa sama ibu nggak ridho kalo jadi rebutan).

Menurut detik's advocate gimana?
Apakah itu bersifat wasiat atau apa yah?
Dan yang harus saya lakukan bagaimana ke mereka?

Soalnya semakin menggila. Adiknya yang satu itu minta dijual semua. Padahal semua yang almarhum punya atas keringat beliau bukan keringat mereka bukan dari warisan. Itu murni keringat beliau.

Saya juga jadi galau di akta dan di Dukcapil saya tertera nama beliau sebagai ayah dan ibu..

Tolong pencerahannya
Terima kasih banyak...


JAWAB:

Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut jawaban kami berdasarkan data yang penanya sampaikan:

Pasal 68 ayat (1) jo. Pasal 66 ayat (1) jo. Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tenteng Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (selanjutnya disebut UU Kependudukan) mengatur bahwa Akta Kelahiran merupakan Dokumen Kependudukan.

Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 8 UU Kependudukan, Dokumen Kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti autentik yang dihasilkan dari pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Oleh karena Akta Kelahiran merupakan alat bukti autentik, sesuai sifatnya sebagaimana diatur dalam Pasal 164 HIR/285 Rbg/1870 KUHPerdata, maka Akta Kelahiran sebagai suatu akta autentik mempunyai kekuatan pembuktian sempurna dalam hukum acara perdata sepanjang tidak dapat dibuktikan sebaliknya. Dengan demikian, selama belum ada putusan pengadilan yang membatalkan atau yang menyatakan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, isi yang tertulis dalam Akta Kelahiran (sebagai suatu akta autentik) harus dianggap benar adanya.

Terkait persoalan waris yang Saudara tanyakan, sepanjang Akta Kelahiran Saudara belum dibatalkan atau dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat melalui suatu putusan pengadilan, maka anak kandung yang tercantum dalam Akta Kelahiran merupakan ahli waris dari orang tuanya sebagaimana tercantum dalam Akta Kelahiran tersebut.

Kemudian terkait kios yang dibeli oleh ayah Saudara dari adiknya tersebut, maka Saudara perlu memastikan apakah ada bukti mengenai jual beli yang dimaksud tersebut. Jika Saudara memiliki buktinya, Saudara dapat memastikan siapa pihak pembeli dan penjual yang disebut dalam jual beli tersebut agar dapat menentukan status kepemilikan dari kios tersebut. Misalnya dengan cara mengecek apakah jual beli yang Saudara maksud disertai dengan bukti kuitansi, perjanjian pengikatan jual beli, akta jual beli, ataupun dengan saksi-saksi yang mengalami, melihat atau mendengar langsung perihal jual beli tersebut.

Begitu pula dengan status rumah yang Saudara maksud, jika rumah tersebut merupakan harta milik ayah dan ibu Saudara, maka setelah ayah dan ibu Saudara meninggal, rumah tersebut menjadi bagian boedel waris dari Saudara dan kakak Saudara selaku ahli waris anak kandung sebagaimana tercatat dalam Akta Kelahiran.

Sayangnya kronologi yang Saudara sampaikan tidak menyebutkan agama dan jenis kelamin Saudara dan kakak Saudara. Karena hukum waris di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dimana ada perbedaan antara hukum waris bagi yang beragama Islam dengan yang beragama selain Islam.

Ketiadaan informasi ini menyebabkan kami tidak bisa menjelaskan lebih detil mengenai siapa saja yang dapat menjadi ahli waris dan berapa besar bagian masing-masing ahli waris.

Demikian jawaban dari kami

Salam

Tim Pengasuh detik's Advocate

detik's advocate

Tentang detik's Advocate

detik's Advocate adalah rubrik di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembaca detikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh para pakar di bidangnya.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), hukum waris, hukum internasional, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email: redaksi@detik.com dan di-cc ke-email: andi.saputra@detik.com

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.

Simak juga 'Yogyakarta Kini Punya 26 Warisan Budaya Tak Benda Baru':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/asp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT