Bantah Beli Tesla-Ferrari dari Binomo, Indra Kenz Ngaku Cuan dari Kripto

ADVERTISEMENT

Bantah Beli Tesla-Ferrari dari Binomo, Indra Kenz Ngaku Cuan dari Kripto

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 17:35 WIB
Sidang Indra Kenz
Sidang Indra Kenz (Wilda/detikcom)
Jakarta -

Terdakwa Indra Kesuma alias Indra Kenz menampik mobil Tesla dan Ferrari miliknya yang kini disita jaksa itu hasil dari keuntungan permainan trading Binomo. Indra Kenz pun mengungkap asal usul harta kekayaannya. Dari mana?

Mulanya, Indra Kenz mengklaim tak ada uang dari aplikasi Binomo yang mengalir ke rekeningnya. Dia pun membantah uang yang saat ini dimilikinya itu berasal dari kerugian korban aplikasi Binomo.

"Tidak ada, aliran Binomo yang ada di rekening saya merupakan aliran dari hasil saya melakukan secara mandiri. Aliran Binomo yang berasal dari kerugian para korban yang bermain di Binomo kemudian dibagikan kepada saya itu tidak ada sama sekali, Pak," kata Indra Kenz saat sidang di Pengadilan Negeri Tangerang, Jalan Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang, Rabu (28/9/2022).

Jaksa lalu bertanya dari mana sumber penghasilan Indra Kenz untuk membeli mobil mewah Tesla hingga Ferrari bila menampik aliran uang itu dari Binomo. Indra Kenz mengklaim mobil-mobil mewah itu dibeli dari keuntungan trading kripto, yang mencapai miliaran rupiah.

"Ini kan Saudara menampilkan video ada yang beli Tesla, Ferrari, bisa diceritakan dari mana penghasilan Saudara tersebut jika Saudara dari keuntungan Binomo tersebut tidak mendapatkan hasil? Dari mana? Kita kan di mata umum itu luar biasa," tanya jaksa.

"Di tahun 2021 saya mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari lonjakan yang terjadi di kripto. Di tahun 2021, nilai dari kripto Bitcoin itu mencapai Rp 975 juta, kemudian saya juga melakukan trading di kripto ini menggunakan platform Indodax," jawab Indra Kenz.

"Saya membeli beberapa koin yang tadinya harganya rendah menjadi tinggi. Saya kasih contoh, saya membeli koin BTT yang satu BTT itu bernilai Rp 8 tetapi ketika saya beli, 3 bulan kemudian Bitcoin itu naik ke angka 180, artinya saya memperoleh profit 2.000 persen dan jumlah yang saya beli itu Rp 1 miliar, sehingga saya mendapat profit Rp 20 miliar. Itulah mengapa transaksi saya di Indodax itu begitu besar sampai ratusan miliar karena jumlah profit keseluruhan yang saya dapat itu paling besar," papar Indra Kenz.

Indra Kenz mengklaim seluruh harta kekayaannya itu dari hasil trading kripto. Dia mengaku mempunyai bukti pernah menjadi trader of the year dari pihak Indodax karena memiliki transaksi yang besar.

"Seluruh harta saya dari kripto karena lonjakan yang terjadi di 2021 dan saya sudah mengenal kripto dari 2017. Saya juga memiliki buktinya, di mana saya sudah membeli Bitcoin sejak tahun 2017, kemudian berlanjut ke 2018 dan 2019. Itulah mengapa di 2021 saya dinobatkan menjadi trader of the year oleh pihak Indodax karena saya memiliki transaksi yang sangat besar dan memiliki profit sampai jumlah transaksi hingga ratusan miliar," kata Indra Kenz.

"Saya juga punya buktinya, sehingga uang-uang tersebutlah yang saya gunakan untuk kemudian membeli mobil, rumah, dan aset saya yang lain. Itu semua berasal dari kripto saya. Semua transaksi saya itu ada di Indodax bisa dibuka dengan jelas," imbuhnya.

Indra Kenz Didakwa Judi Online, Hoax dan TPPU

Diketahui dalam kasus ini, Indra Kenz didakwa melakukan pidana judi online, penyebaran berita bohong (hoax) melalui media elektronik sehingga mengakibatkan kerugian konsumen melalui transaksi elektronik, penipuan atau perbuatan curang, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Indra Kenz didakwa pasal berlapis dalam kasus investasi bodong aplikasi Binomo.

"Terdakwa Indra Kenz dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat aksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian yang dilakukan oleh Terdakwa," kata jaksa penuntut umum saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Tangerang, Jalan Taman Makam Pahlawan, Tangerang, Jumat (12/8).

Indra Kenz dalam kasus ini didakwa pasal berlapis. Pasal yang didakwakan adalah Pasal 45 ayat 2 juncto Pasal 27 ayat 2 dan/atau Pasal 45A ayat 1 juncto Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 3 dan/atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(whn/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT