Sulit Air, Warga Merapi Mulai Jual Ternak
Jumat, 07 Jul 2006 17:07 WIB
Yogyakarta - Akibat terputusnya pipa saluran air dari Umbul Bebeng karena tertimbun material Merapi, warga Cangkringan, Sleman dan Balerante, Klaten sampai saat ini masih kesulitan mendapat air bersih. Akibatnya, hewan ternak yang menjadi harta kekayaan satu persatu mulai dijual untuk membeli air.Mereka terpaksa membeli air bersih dari tangki-tangki swasta dengan sangat mahal. Namun ada pula warga yang harus mengambil air bersih di sumber-sumber mata air yang ada di bawah seperti di Argomulyo Cangkringan, Sindumartani Ngemplak Sleman dan Kepurun Manisrenggo Klaten. "Kalau harus beli dari tangki keliling, uang tabungan bisa habis dan ternak bisa saya jual semua untuk beli air," kata Adi Warsito, warga Balerante Klaten kepada detikcom, Jumat (7/7/2006).Menurut Adi, bantuan air yang disediakan di bak penampungan yang dipasang di pinggir-pinggir dusuntidaklah cukup. Satu bak air isi 2 ribu liter dalam sehari habis untuk keperluan 10-20 KK. Sementara itu, bila warga harus membeli sendiri tidak akan punya uang yang cukup. "Air yang diambil dari bak penampungan sebenarnya hanya cukup untuk keperluan keluarga. Belum untukminum ternak yang bisa menghabiskan puluhan liter setiap hari. Kita juga sudah minta dropping sehari 2 kali, tapi tidak dipenuhi," katanya.Saat ini sudah ada warga yang menyewa mobil pikap bersama-sama kemudian membawa banyak jeriken untukmengambil air dari sumber yang ada di wilayah Ngemplak dan Manisrenggo. Selain mencari air, mereka juga mencari rumput untuk pakan ternak, karena di hutan Merapi sudah hangus dan terkena abu Merapi. "Sebagian mengambil air di Umbul Joho Lanang Sindumartani, sebagian lagi ada yang mengambil air di Keputran Kemalang," kata dia. Akibat kesulitan mendapatkan air dan rumput, kata dia, ada warga yang mulai menjual hewan ternaknya terutama jenis sapi lokal dan kambing. Sedangkan sapi perah belum dijual karena menjadi sumber penghidupan utamanya selain mencari pasir di Kali Woro. "Pakan ternak berupa jerami yang juga ikut naik harganya. Satu truk jerami saat ini mencapai Rp 200-an ribu. Jadi warga setiap minggu harus punya uang cukup untuk beli air dan pakan," katanya.Sulitnya air yang dialami warga Balerante itu juga dialami oleh warga tetangga desa sebelah yakni Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Singlar, Srunen Desa Glagaharjo, Desa Kepuharjo dan Umbulharjo. Mereka saat ini juga mengandalkan suplai air dari bak-bak penampungan, akibat belum ada aliran air dari Umbul Bebeng. Mereka saat ini ada yang mengambil air di umbul Argomulyo Cangkringan yang berjarak 7 km dari tempat tinggalnya.Menurut Kabag Pembangunan Desa Glagaharjo, Sriyono, sampai hari ini mata air Bebeng masih rusak. Untuk perbaikan, memerlukan waktu lama karena banyak pipa saluran rusak, baik yang menuju Kinahrejo, Kepuharjo, Kalitengah maupun Balerante. Beberapa petugas dari Dinas Pekerjaan Umum, Pemkab Sleman sudah meninjau lokasi. Timbunan material Merapi di sekitar sumber mata air sangat banyak sehingga perlu dikeruk lagi. "Beberapa pipa ada yang rusaknya parah, tapi kami belum tahu kapan bisa diperbaiki karena Merapi masih berstatus Awas," kata dia.
(asy/)











































